Follow Us Now


Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Cerita Sahabat

Elitasari Apriyani
Elita Sari Apriyani. Sukanya dipanggil EL atau L aja. Entah ya kenapa. Tapi dia maunya gitu. Katanya sih biar sama kaya Logan Lerman Gitu\9nama depannya kan L juga ;p) dasarrrrrr...Diantara kita dia paling childish anddddddd manjaa deh ya :p hehehe. Kebiasaannya mojok di rumah Dhian cari signal WiFi. Beuhhhhh -____________-"

Sebuah Puisi (Request from Oldha)

Hanyut diantara ketidakmampuan perasaan
Sedikit singgah kesakitan itu
Seolah menyiksa
Namun, aku tetap bertahan
Kau menjadi badai
Sekejap meruntuhkan
Rasa yang tercurah
Tinggallah aku yang mengalah pada sebuah keadaan
yang tak terarah
Asaku yang diujung jari
Ketika hanya tahu hati itu cuma aku yang miliki
Terlambat! 
Pikirku
Saat kulihat hatimu telah terbagi untuk yang lain
Menatap mentari dengan secercah pendar-pendar cahaya yang terus berkerlip di rongga hati terdalam
Biarlah...

Mutisme Elektif

Sedikit berbagi tentang Mutisme Elektif (gangguan berkomunikasi dimana seseorang yang dalam hal ini lebih banyak anak – anak mampu, namun memilih tidak berbicara pada situasi – situasi tertentu ataupun orang – orang tertentu)
Pernahkah bertemu dengan seseorang yang menderita Mutisme Elektif? Aku rasa aku pernah. Entah ini baru dugaan aja sih, tapi dari ciri-cirinya orang yang kukenal tapi tak kenal (maksudnya gak kenal tapi tau sih , hehehe ) itu sama persis, mirip, sama banget sama gejala-gejalanya. Beuh.,...kalau temen temen sekolah pada baca mungkin mereka tau siapa orang yang kumaksud kali ya -_-
duh Peaceeeee ya... hehehehe :D

My Inspiration

Sedikit kuungkapkan, tentang sosok idolaku. Sosok yang menginspirasi mimpi-mimpiku. Sekiranya yang mungkin mustahil. Namun aku slalu meyakini apa yang dikatakannya itu ada benarnya juga . Sebuah kata yang menginspirasi dan memotivasiku. Never Say Never.  THIS IS :

Sajak Buat Tuhan

Wajahku menengadah ke atas langit-Mu
Mengagumi banyaknya berlian yang kau taburkan di atas sana
Aku biarkan terpejam sejenak
dibawah langit-Mu..
Kurasakan hidup yang kian lama, kian sulit untuk dipahami maunya
Bila inginku ikuti,jalan-Mu teramat membingungkan
Sedikit gundah kadang tercurah
Membujuk untuk menyerah
Tetapi dengan segenap kelemahanku
aku tetap mencoba berdiri, tegak menatap hidupku
Tuhan..ketika itu aku benar-benar hilang arah

Tentang Sebuah Daun

Pernahkah kau merasakan
Ketika kau jatuh dan hilang arah
Dan kau layaknya selembar daun kering
Jatuh dari dahaNnya
Gugur terhempas begitu saja
Dia hanya pasrah
membiarkan angin menghempaskan tbuhnya ke atas permadani biru
Dan melayang tak tentu arah
tidakkah kau seprti itu?

ini sebuah renungan

kehilangan,
semua orang pasti pernah merasakannya, semua pernah mengalaminya.
Entah itu saudaramu, ayahmu, ibumu, kekasihmu, sahabatmu atau siapapun ,kau pasti juga pernah merasakan kehilangan
itu.
Kehilangan yg menyakitkan, saat tuhan memank harus mengambil raga orang yang kita cintai agar kita bisa merasakan kehilangan itu, hingga terkadang kita merara putus asa.
Tapi tidak kah kau berfikir bahwa semua ini juga akan hilang layaknya serpihan debu bhkan lebih kecil dari itu.
Kehilanganmu itu sesungguhnya adalah sementara,
kehilanganmu bukan selamanya,
kehilanganmu adalah motivasi baru yang layak untuk kau kenang, bukan kau ingat selalu
kehilangan, dan semua tentang kehilangan . . .

Krisan Untuk Natsya (Cerpen)



            Sinar kuning itu membangunkanku dari lelap tidurku semalam. Serasa dipaksakan, aku bangkit dari tempat tidurku. Dengan mata setengah terpejam, kulirik jam dinding di sudut ruangan kamar.
            “Ahhh…Sial ! Sepertinya aku terlambat !” Keluhku. Tanpa basa-basi, aku segera bergegas . Itulah susahnya hidup jauh dari orangtua.
            Hari ini hari pertamaku masuk sekolah baru. Harusnya hari ini menjadi kesan pertama dengan sekolah baruku, tapi karena aku bangun kesiangan…”ini bukan hari yang baik”. Rupanya ini bukan hari keberuntunganku. Sesampai di muka gerbang, aku melihat banyak siswa yang juga terlambat. Hufff…setidaknya aku bisa bernafas lega. Ternyata bukan aku saja yang terlambat. Akhirnya, aku dan kawan-kawan baruku yang lain dibawa ke ruang kepsek untuk dimintai penjelasan.
            “Leganya bisa keluar dari ruangan ini…” Aku bernafas lega. Pikirku saat itu, aku tidak mendapat poin untuk keterlambatanku di hari pertama masuk sekolah baru. Baru selangkah kulangkahkan kaki, ada yang mengalihkan perhatianku. Sosok yang baru saja lewat dihadapanku. Siapa dia? Aku benar-benar dibuat penasaran olehnya.. Sosok itu berhenti di depan toilet umum siswa. Tak ada siapa-siapa disitu, hanya kesunyian. Dari kejauhan aku melihat sosok itu meletakkan sesuatu yang dibawanya ke dalam loker kecil dekat toilet dan kemudian menguncinya rapat.
            “Hei ! Ayo masuk! Ngapain clingak-clinguk gak jelas disini ?” Tiara mengagetkanku. Tiara adalah teman SMP ku. Sudah 3 tahun kami berkawan.
            “Tidak ada..” Aku hanya tersenyum. Tiara menyeret tanganku menjauh dari tempat itu. Sejenak aku menoleh ke arah pandanganku semula. Tak ada siapa-siapa disana.
            Hari berikutnya, aku semakin sering melihat sosok itu. Sosok seorang gadis, sebayaku. Tiap pagi aku selalu melihatnya membawa sesuatu yang kemudian diletakkannya di loker toilet dan begitu seterusnya yang aku lihat tiap hari.
            “Sebenarnya apa yang kau lakukan tiap pagi di dekat toilet?” Tanya Tiara padaku suatu hari. Pikiranku kembali melayang pada gadis itu. “Rin?” Aku tersadar dari lamunanku, kutarik nafas panjang. Kujelaskan semua pada Tiara, apa yang aku lihat dan apa yang apa yang aku





rasakan. Bagaimanapun Tiara harus tahu tentang ini. Ternyata Tiara sendiri tak tahu siapa perempuan yang sering aku lihat di toilet siswa.
            Siang itu begitu basah. Basah karena hujan tadi pagi yang masih membekas. Aku duduk di sisi taman menunggu Tiara. Ya…hari ini kami ada janji untuk bertemu. Tetapi, Tiara tak kunjung datang. Di tengah kesendirianku, aku melamunkan perempuan itu. Perempuan yang masih membuat aku bertanya-tanya.
            “Hai…Boleh aku duduk di sebelahmu ?” Aku menoleh pada suara yang menyapaku. Aku tercengang, tenggorokanku terasa tercekat. Benarkah yang kulihat ini ? Setelah berpikir agak panjang aku menyuruhnya duduk di sebelahku. Kami pun berbincang tentang banyak hal.
            Namanya Natsya. Dia tinggal bersama kakaknya. Hidupnya pun sangat berkecukupan. Satu tahun yang lalu orangtuanya meninggal karena dibunuh. Ya…dibunuh dengan sadis, di depan kedua mata Natsya. Mungkin itulah yang membuatnya tertutup dengan orang lain. Sejak perkenalanku dengan Natsya, kami mulai akrab. Namun, itu tak membuatnya berubah.
            Satu hari setelah ujian sekolah, aku tak melihat Natsya tampak di kelas hari ini. Tak ada satupun yang tahu. Mungkin Natsya sedang ada urusan. Begitu pikirku. Aku tak ingin berpikir macam-macam.
            “Ini sudah lewat minggu pertama, tapi kenapa Natsya tidak pernah masuk sekolah ?” Tanyaku pada Tiara.
            “Tenanglah dulu, mungkin dia sedang ada masalah atau sesuatu yang memaksanya tidak bisa berangkat sekolah.”
            “Tidak mungkin, apa dia butuh satu minggu tanpa keterangan untuk tidak masuk sekolah ?”
            “Tunggulah besok. Mungkin saja besok Natsya sudah masuk…” Aku menghembuskan nafas dengan berat.
Esoknya, aku kecewa. Sama seperti seminggu yang lalu dan hari-hari kemarin. Tiara berdusta. Nyatanya aku tak melihat Natsya hari itu. Aku benar-benar tak ingin membuang-buang waktu dengan perasaan kacau seperti ini. Sepulang ini, aku harus ke rumah Natsya. Aku akan cari tahu, apa yang sebenarnya terjadi.
            Hari itu hujan, tapi aku tak ingin hujan menghalangi langkahku untuk bertemu dengan Natsya. Dengan baju basah kuyup. Aku sampai di depan rumah Natsya. Tampak kosong dan lengang. Kutekan bel rumah tak ada yang menjawab. Membuat aku kesal dan kecewa. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Natsya? Aku pulang dengan rasa kecewa yang dalam.




            Dalam perjalanan, aku menemukan seikat krisan tergeletak di pinggir jalan. Membuat aku bertanya-tanya. “Krisan seperti ini hanya ada di rumah Natsya, karena krisan ungu ini adalah krisan kesayangan Natsya. Tapi, kenapa bisa ada disini ?”Aku menggumam sendiri. Pikiranku mulai kacau. Sesampainya di rumah, kuletakkan seikat krisan itu dalam vas kecil warna ungu. Warna faforit Natsya dan bunga kesayangannya. Ya…aku selalu teringat kata-katanya tentang krisan yang dia ungkapkan tempo hari padaku. Krisan yang mungil dani indah. Yang suatu saat nanti, akan  layu. Layu bersamaan dengan hidupku. 
            Aku sendiri masih bingung dengan ucapannya padaku saat itu. Kata-kata itu sederhana, tapi selalu terngiang di telingaku. Aku harus mulai belajar, bahwa 7 menit terakhir di taman adalah pertemuanku yang terakhir dengannya. Sampai sekarang. Aku tak pernah melihat Natsya lagi. Entah apa yang terjadi dengannya.
            Hari itu ,aku duduk di teras depan dengan teh hangat dan camilan seadanya sambil membaca komic Usagino Mimi,  ini pasti asyik.
            “Permisi…” Aku terkejut melihat petugas pengantar barang datang menghampiriku.
            “Ada yang bisa saya Bantu ?” Tawarku. Lelaki paruh baya itu memperlihatkan namecard padaku. Dan di namecard itu ada namaku.
            “Itu saya. Ada apa ya? Saya tidak pernah memesan apa-apa kan ?” Aku mulai bingung. Sebelumnya aku tak pernah membeli apapun, kenapa ada pengantar barang ?
            “Saya hanya mempunyai kewajiban memberikan ini pada mas. Saya permisi. Terimakasih…” Lelaki itu pergi tanpa penjelasan apapun. Bodohnya aku, kenapa aku tidak bertanya siapa pengirim paket itu ? Tanpa basa basi, aku membuka bungkusan itu. Sebuah buku agenda warna ungu. “Tanpa nama?” Aku mengernyitkan dahi. Aku membacanya satu persatu, dari halaman awal. Aku baru sadar bahwa agenda itu milik Natsya. Sekarang aku tahu apa yang terjadi dengan Natsya.
            Sore itu, aku mengajak Tiara untuk menemui Natsya. Menemuinya di psikiater. Sesampainya disana, aku melihat Natsya merenung sendiri dengan tatapan hampa dan tanpa gairah hidup. Ternyata, selama ini dia menyimpan luka lama yang tak pernah sembuh. Luka yang disimpannya sendiri, rasa trauma satu tahun silam di sebuah apartemen yang mengharuskannya melihat semua kronologis kematian orangtuanya. Aku tak sanggup melihatnya seperti itu. Natsya sudah tak ingat apapun tentang hidupnya. Lalu bagaimana denganku ? Aku segera meninggalkan tempat itu.  Aku tak ingin lebih terluka melihat Natsya seperti itu.




                        Kuletakkan krisan di atas pusara nisan berukir “Natsya”. Disanalah Natsya menemukan keabadiannya, tempat terindah yang selama ini diinginkannya, mungkin. Aku hanya meratap, memandang jauh ke depan. Aku tak pernah membayangkan Natsya akan meninggalkanku secepat ini, tanpa penjelasan apa-apa. Kenapa dia harus mencabut nyawanya sendiri, padahal aku ingin sekali melihat senyumnya untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Senyum yang tak pernah aku lihat selama ini, tak pernah aku abadikan walaupun sekali.
            Perlahan, airmataku mulai mebasahi. Jatuh setitik-setitik. Kuusap airmata yang terlanjur jatuh.
            “Aku lelaki. Dan aku tak bisa membiarkan airmataku jatuh di depan Natsya. Itu tak akan terjadi lagi.” Aku beranjak dari tempat itu. Berjalan terarah dengan sesuatu yang pasti. Disini, tak ada yang bsia menghapusnya. Menghapus tentang Natsya. “Selamat tinggal Natsya. Aku pasrahkan semuanya untukmu, disini…” Sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Suara adzan mengalun merdu mengiringi langkah kakiku meninggalkan pemakaman di sore itu.
            Mahkota krisan bertebaran di ujung jalan, menebar wangi pada setiap orang. Dunia mulai berputar, redup, kemudian gelap. Disitu tak ada cahaya. Hanya pekat yang tergenggam. Tak bisa terlepas walau dengan waktu. Biar sendiri, bahagia itu tetap untukmu, Rino…

            Kututup lembar terakhir agenda milik Natsya. Ada sesuatu yang tak pernah bisa kuungkapkan selama ini. Perjalanan ini sudah berakhir, aku akan pergi menatap sesuatu yang akan terjadi di kehidupanku kelak, tanpa Natsya.

Catatan Dua Sahabat (Cerpen)


        Aku, adalah pengidap HIV akut di usiaku yang merangkak ke angka 16. Dokter manapun sudah memvonisku bahwa takkan lama lagi masa-masa remajaku akan berakhir. Tak ada waktu untuk mengejar semua yang telah kusiakan. Ini semua berawal dari kesalahan terbesarku. Dosa terindah yang perlahan mematikan ragaku. Pahitnya itu, kutelan sendiri. Duniaku yang begitu gelap, pekat. Lebih pekat dari segelas kopi panas atau lebih menyakitkan dibanding apapun. Tak pernah kusangka sebelumnya, kalau semuanya akan berakhir dengan cara yang siapapun pasti tak pernah menginginkannya.
            Sejak 2 tahun lalu,Aku seorang pecandu berat psikotropika. Berbagai jenis obat-obatan telah bersarang dalam tubuhku yang tanpa kusadari, benda yang kuanggap sebagai sahabatku itu telah membunuhku secara perlahan. Entah bagaimana awalnya hingga aku mengidap penyakit ini. Namun yang pasti, dulu aku sering bertukar jarum suntik dengan teman-teman yang senasib dengan diriku. Sekarang, apa yang kudapatkan dari perbuatanku? Aku kehilangan masa remajaku. Masa yang penuh dengan gejolak. Masa yang penuh dengan keindahan, cinta dan persahabatan juga kebahagiaan. Harusnya aku bisa merasakan itu semua di hidupku. Tak mungkin kuteruskan mimpi-mimpi konyol itu. Sementara, sebentar lagi malaikat maut akan segera menjemput paksa diriku.
            Terlebih, saat keluargaku ayah ,ibu dan semuanya mengetahui hal ini. Mereka mengasingkanku dari dunia, menjadikanku sampah seolah-olah aku memang patut dienyahkan. Sampai sekarang, aku selalu takut kalau-kalau saja ayah menemukanku dan akan membunuhku dengan belatinya yang tajam itu. Aku menyayangi keluargaku, namun aku juga membenci mereka. Andai saja mereka tak memaksaku menuruti semua kemauan mereka yang berlebihan, aku juga mungkin tak akan menjadi seperti yang sekarang. Ini salah ayah dan ibu. Mereka telah membuatku menderita. Kalau aku tahu akan seperti ini takdirku, aku memilih untuk tidak pernah dilahirkan sama sekali.
            Di sebuah rumah kost di pinggiran kota, di kawasan sepi penghuni. Disitulah diriku tinggal. Thiery yang membawaku ke tempat itu. Awalnya, dari sebuah ketidaksengajaan , aku berjalan menyusuri sepanjang rel kereta. Aku berharap saat itu akan ada yang menarik ragaku melayang sebebas-bebasnya. Tapi tiba-tiba saja seorang menarik bajuku dari belakang. Dan aku melihat gadis berkacamata itu tersenyum memandangku. Thiery adalah teman SMPku. Teman? Mungkin itu perlu dipertanyakan, karena sepanjang perjalanan hidupku aku tak pernah mempunyai seorang teman. Dan sejak SMP Thiery lah satu-satunya orang yang cukup berani mendekatiku, karena sejak dulu aku memang dikenal sebagai gadis yang cuek, acuh tak acuh dan tidak pandai bergaul. Sifatku yang tertutup dan misterius mungkin itu juga yang menjadi factor utama orang-orang menjauhiku.
            Thiery gadis yang baik, setelah aku benar-benar mnengenalnya. Thiery lah yang membuatku sadar dan dia juga yang sudah membiayai semua pengobatan selama aku dirawat di panti rehabilitasi khusus bagi pecandu dan pederita AIDS. Tak heran, Thiery gadis cantik dan berlimpah materi. Hal itu tak membuatnya buta untuk memanfaatkan masa remajanya yang hampir tanpa celah itu. Aku tahu Thiery sudah banyak berkorban untuk diriku. Dia selalu menganggapku sebagai sahabatnya. Meskipun selama ini aku mngacuhkan dirinya. Thiery selalu menemaniku, mengajakku jalan-jalan dan bersenang-senang. Dia selalu menunjukkan padaku betapa indah dunianya yang suci itu. Thiery selalu menceritakan masa remajanya yang jelas saja itu membuatku tersinggung.
            “Sebenarnya apa maksud kamu ? Kamu ingin membandingkan kehidupanku dengan kehidupan kamu yang sempurna itu? Bukan gini caranya kalau kamu mau mencemoohku secara tidak langsung!”
            “Kamu salah Talia, apa yang aku lakukan ini tulus hanya untuk membuatmu mengerti, kita ada di posisi yang sama. Kita sebagai remaja, remaja yang belajar tentang siapa jati diri kita. Dan aku sebagai perantara untuk membantumu menemukan apa yang kau cari…Masih ada sahabat untuk kamu, Talia.” Kalimat itu seakan menusuk pikiranku. Membuatku benar-benar mengerti tentang sebuah kesalahan yang tak mungkin terhapuskan. Aku sudah melewatkan banyak hal, melewatkan dunia yang begitu indah. Meninggalkan mereka, yang ingin menjadi sahabatku. Menjauh dari cinta dan cerita.
            Semakin hari, aku semakin merasakan perubahan yang drastis pada tubuhku. Tubuh yang semakin kurus, pucat dan lemah. Itulah aku sekarang. Dan disaat itu pulalah, aku melihat senyum Thiery mengembang di setiap sudutnya saat dia berusaha menghiburku. Senyumannya selalu bisa membuatku tegar. Thiery selalu saja bisa menghilangkan semua keluhku. Apapun yang kurasa, Thiery juga merasakan hal yang sama.
            Kami adalah dua orang yang tak pernah terpisahkan. Seolah aku tak pernah memikul sebuah derita. Bersama Tiery ,aku merasakan sedikit beban itu berkurang dari pundakku. Thiery lah yang membantu memikulnya. Dan perlahan, hatiku mulai terbuka. Aku baru saja menyadari, ada hal indah di luar sana yang sering sekali kulewati. Ketika aku masih duduk di bangku sekola. Bergurau kesana kemari. Bersama banyak teman-teman yang mengisi tiap hari-hari itu. Dan aku mengerti. Betapa naifnya diriku, yang dahulu tidak ingin berteman dengan siapapun. Betapa pentingnya terbuka untuk orang lain. Dan betapa beruntungnya jika aku memiliki seorang teman. Stu-satunya dalam hidupku. Hanya Thiery. Tia kami berjalan keluar, bersenda gurau, beberapa pasang mata memperhatikan tingkah kami. Memandang jijik ke arahku dan mungkin memandang aku dan Thiey dua gadis gila yang tak tahu malu. Benar. Kuakui memang benar. Tapi, menurutku siapapun boleh menilaiku seperti apa. Baik, buruk itu bukan masalah. Karena aku sudah mempunyai satu orang yang mau menerima kondisiku apa adanya tanpa melihat betapa buruknya hidupku.
            Hari itu, hujan kembali turun. Di depan teras rumah aku menunggu kedatangan Thiery. Sudah 5 hari ini aku tak pernah melihatnya mengunjungiku. Aku fikir pasti ada sesuatu yang terjadi padanya, hingga dia tidak memberitahukannya padaku. Samar-samar kudengar suara tangisan. Makin lama- suara itu makin terdengar jelas. Kuambil payungku, mencoba mencari arah suara itu. Dan ternyata benar. Aku melihatnya bersimpuh di tengah jalan raya yangkosong berpayung hujan dan derai airmata. Kacamatanya hancur tak bersisa. Aku menghampiri Thiery yang sedang menangis.
            “Kau kenapa Their?” Aku memapahnya bangun. Thiery hanya terdiam membisu. Namun airmatanya tetap saja turun, semakin deras. Aku membawanya ke tempat kost dan mendudukkannya di kursi kecil di ruang tengah. Thiery terlihat sangat takut, sedih dan kalut. Tak pernah aku melihatnya menangis seperti itu.
            “Apa yang terjadi denganmu Their? Ceritakan padaku!” Kemudian kubenahi letak dudukku hingga aku dan Tiery saling berhadapan. Kuusap lembut rambutnya yang basah itu. Tangannya terus mengepal, dan airmatanya semakin deras membuat diriku makin tak mengerti. Sesaat, Thiery memandang ke arahku menghentikan tangisnya kemudian menunduk dan kembali berderai airmata.
            “Bicaralah Thiery, jangan membuatku bingung!” Aku menggoncangkan tubuhnya yang tak bergerak sama sekali. Tangannya yang mengepal kini menutupi wajahnya yang merah dan kuyu.
            “Aku…”
            “Iya, kamu kenapa Thiery? Katakan padaku, apa yang terjadi?”
            “Sekarang aku sama seperti kamu Talia…” Tangisnya makin menjadi. Dan kalimatnya membuat aku bingung.
            “Apa maksud kamu?”
            “Apa yang kamu alami, sekarang juga menimpaku, Talia!” Suaranya meninggi. Kulihat airmatanya makin deras. Thiery berlari keluar meninggalkanku dengan seribu penyesalan. Kakiku lemas, tak mampu mengejar Thiery yang sudah berlari menembus hujan. Kusandarkan bahuku dengan kasar , dan bendungan di mataku tak mampu menahan kokohnya airmata yang kian deras mengalir. Hangat terasa di kedua pipiku. Aku tak mampu berkata apa-apa setelah apa yang diungkapkan Thiery, itu sudah membuatku jelas dan membuatku benar-benar makin menyesal.
            Di trotoar jalan aku berjalan sendirian, tanpa arah dan utujuan. Kosong. Di pikiranku semuanya kosong, hilang dan tak berarti. Aku sudah membuat Thiery, satu-satunya sahabatku menderita. Rasanya aku tak kuat memikul ini sendirian. Sudah kering rasanya airmataku untuk menangisi keadaanku, keterpurukan dan sejuta penyesalan yang menghantuiku. Fokusku hanya ke satu arah. Seperti orang yang kehilangan keseimbangan, aku benar-benar seperti orang yang sudah putus asa.
Di sebuah jembatan kecil tak jauh dari situ, kulihat rintik hujan masih mengguyur aliran sungai di bawahnya. Membuatnya semakin mengeruh,seolah mengejek perasaanku saat itu.
            Kulihat sekelilingku. Dan aku tahu, hanya aku seorang diri disini. Dan saat itulah, hatiku mulai terasa tercabik, saat Thiery benar-benar tidak ada disini. Badanku limbung, tak mampu menopang keseimbangan. Aku terjatuh bersimpuh disitu. Tanganku mengepal dan menyibak air hujan yang tidak juga berhenti.Tangisku semakin menjadi . Kujambak sendiri rambutku dan menangis sekencang-kencangnya. Yang ada hanya, angin menyahut dengan kencangnya. Aku merasakan ada yang menyentuh bahuku dari belakang.. Aku terkejut dan menoleh ke belakang. Ada cahaya kecil yang indah disana membuat hatiku menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
            “Talia…” Dia memelukku dengan erat dan kubalas pelukan Thiery sambil  sesekali kami berpandangan penuh arti. Hujan kian deras, menjadi atap kami malam itu.
            Aku dan Thiery sampai di tempat kost. Kami berdua terduduk di ruangan tengah yang cukup sempit sambil mengeringkan badan yang sudah terlanjur basah. Kupandangi wajah sahabatku itu, dia hanya tertunduk dan terdiam.
            “Seharusnya kamu tidak kembali…” Kataku memecah keheningan malam itu. Thiery hanya tersenyum kecil. Masih ada sisa-sisa kesedihan terlihat di raut wajahnya.
            “Ini mauku, Ta..” Jawabnya pendek.
            “Maafin aku,Ri. Kalau saja kamu tidak pernah mengenalku, mungkin sekarang kamu akan baik-baik saja…” Sesalku. Wajahku kembali memerah menahan sesak dan menyeka airmata yang terlanjur jatuh setitik.
            “Ini bukan salah kamu, Ta. Tak ada yang perlu dimaafkan. Aku sudah berkata padamu kesekian kalinya. Apapun yang terjadi, hal sepahit apapun itu aku akan tetap menjadi sahabat kamu, Ta. Aku Cuma merasa, aku belum bisa membuktikan apa-apa sama kamu, karena aku belum mendengar kamu mengucapkan kalau aku itu sahabat kamu, Ta. Dan aku akan tetep buktiin ke kamu dengan apa yang aku lakuin sekarang. Aku selalu menganggap kamu sahabat , sejak perknalan pertama kita. Dan aku Cuma berharap, suatu saat hati kamu benar-benar bisa terbuka, Ta. Kalau aku itu selalu tulus berteman dengan kamu…” Kalimatnya terhenti, kulihat bening matanya mulai kembali berkaca-kaca. Aku tak mampu berucap apapun saat itu. Karena aku benar-benar bingung.
            Pagi yang hangat bersambut, kemudian matahari mulai meninggi hingga tepat berada di atas ubun-ubun, dan seketika itu pula senja mulai menyusul dan digantikan oleh petang yang kemudian berubah menjadi malam pekat, begitu setidaknya perjalanan hidupku bersama Thiery saat ini. Sejak Thiery divonis penyakit yang sama denganku, aku sudah tidak pernah lagi melihat senyum ketulusannya. Yang ada adalah sebuah senyuman hambar yang tiap hari kulihat kala dia menghiburku. Entah bagaimana awalnya, hingga Thiery yang tak berdosa ikut pula menanggung penderitaanku. Betapa bencinya Tuhan kepadaku, sehingga orang-orang yang kusayangi semuanya terluka. Aku merasa berdosa . Tidak pada keluargaku, namun pada Thiery.
            “Ta, jalan-jalan yuk!” Ucap Thiery padaku di suatu pagi. Aku hanya memandang wajahnya lekat-lekat, Thiery masih sama seperti dulu. Dia benar-benar tabah seakan tidak memikul beban apapun. Thiery meraih tanganku dan memaksaku bangkit dari tempat dudukku. Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Raut wajahnya masih menggambarkan bias kebahagiaan, namun rasanya hambar bagiku.
            “Thiery…!” Aku menghentikan langkahku. Thiery berbalik dan menghampiriku hingga kami berdua saling berhadapan.
            “Ya Talia?”
            “Jangan buat aku merasa semakin berdosa padamu, Thiery. Sudah cukup aku seperti ini. Aku tak ingin senyum hambar yang kau buat-buat untuk menghiburku. Kau harus menanggung semua yang tidak kau lakukan. Lgian, sudah tahu kalau sakitku ini menular, kenapa kamu masih mau dekat-dekat denganku ? Dan sekarang jadinya seperti ini kan? Aku yang emrasa bersalah, aku yang berdosa, bukan kamu, Thiery…” Aku tertunduk, menahan semua gejolak yang makin meronta kuat disini. Perlahan, Thiery meraih tanganku dan berkata,
            “Aku tidak pernah menyalahkan sahabatku. Ini hanya salah keadaan saja,Talia…” Aku menepis tangan Thiery.
            “Kenapa sih kamu harus baik sama aku? Kenapa kamu harus berteman denganku? Padahal kau lebih pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dari ini…” Suaraku yang kian meninggi, membuat dadaku sesak.
            “Kamu ingin tahu apa jawabanku?” Aku mengangguk pelan.”Aku tidak tahu bagaimana awalnya. Namun, 15tahun lalu aku pernah bermimpi, memimpikan seorang perempuan. Dalam mimpi itu, aku dan perempuan itu tinggal di suatu tempat, jauh sekali dengan keramaian. Hanya ada dia dan aku. Aku pikir itu hanya bunga tidur yang tak berarti apa-apa. Tapi, tiap malam, aku merasa mimpi itu benar-benar menghantuiku, hingga terbawa di alam nyataku. Aku juga bisa ngerasain, kalau perempuan itu selalu ada sama aku dimanapun aku berada.Aku merasa aman, dengan keadaan diriku saat itu. Aku selalu menganggap dia itu nyata, bahkan aku mengajaknya bermain, bicara dan jalan-jalan. Hingga orangtuaku memasukkanku ke rumah sakit. Dan kata dokter, itu hanya sebuah penyakit halusinasi yang berlebihan karena tingkat stress tinggi atau ada factor lain. Namun setelah aku sembuh, aku kembali bertemu dengan perempuan itu. Dan aku tidak sedang bermimpi. Perempuan itu, adalah kau, Talia! Aku bahagia, kalau ternyata, kamu itu memang bener ada Talia. Kamu itu teman bayanganku yang dulu hilang Talia…” AKu memandangnya sejenak dan tertawa menanggapi cerita konyolnya.
            “Jawaban yang konyol, Thiery! Kau tahu itu!”
            “Memang benar, namun itu kenyataannya. Untuk itu, aku ingin kamu benar-benar menganggapku sebagai sahabat kamu Talia. Seperti aku selalu mengharapmu kalau suatu saat nanti kau akan bilang padaku kalau aku ini sahabatmu,Talia…” Thiery mengusap airmatanya yang jatuh. Dan kemudian berjalan meninggalkanku yang masih terpaku disitu. Tak lama Thiery menjauh, aku melihat tubuhnya roboh. Aku segera berlari menghampiri Thiery.
            “Bangun Thiery kau kenapa?” Aku menggoncangkan tubuhnya dengan keras. Namun Thiery tak kenjung sadar. Aku menggendongnya, membawanya kembali ke rumah. Di tepi jembatan, Thiery tersadar dan menyuruhku untuk menurunkannya. Badannya masih lemas, bahkan tidak mampu berdiri. Thiery tergelatak di pelukanku dengan sadar dan berkata dengan lemah.
            “Tadi pagi, aku sengaja menyuntikkan obat keras ke nadiku. Dan obat itu angat cepat bereaksi, Talia…”
            “Apa yang kau lakuakan, kau bdodoh Thiery!!”  Ucapku dengan kasar. Dia hanya tersenyum lemah .
            “Iya, Talia aku bodoh. Tapi aku ingin semuanya segera berakhir. Aku tidak bisa menjalani ini lebih lama lagi, dan….” Kalimatnya terpotong, Thiery hanya menarik nafas dengan panjang dan tersengal-sengal. Tubuh Thiery mulai mengejang. Perlahan, nafasnya yang panjang mulai melemah, hingga tak terdengar lagi. Matanya tertutup rapat, dengan sebuah senyuman yang masih mengembang. Aku hanya terdiam melihat tubuh mungil tak bernyawa itu tidur di pelukanku.
            “Dan…kamu sahabat terbaikku, Thiery…” Kulanjutkan potongan kalimat Thiery untuk yang terakhir kalinya. Aku merasa pipiku mulai hangat dibasahi arimata. Memandangnya lemah dengan rasa berdosa. Kugendong tubuh mungilnya yang sudah tak bernyawa itu , menyusuri tempat-tempat yang pernah kami datangi dulu. Mencoba mengulasnya satu persatu.
            Kudapati diriku di sebuah ruangan gelap, pengap sendirian tanpa siapapun. Hanya ada bayangan Thiery disekitarku. Membuatku makin berodsa. Aku menekuk lututku dan kudekap tubuhku sendiri. Keringatku mengucur deras, seolah dosa itu membakar seluruh tubuhmu. Dan aku selalu berharap, tidak lama lagi aku keluar dari tempat ini, karena aku akan segera menyusulmu Thiery. Sesegera mungkin. Karena aku tak ingin hidup sendiri lagi tanpa seorang sahabat.



                                                                                               

10 menit yang lalu (CERPEN)

10 Menit yang Lalu (About Friendship)
“Maafin aku ,Mel. Aku tahu aku salah. Dan aku menyesal telah melakukan itu kepadamu…”
“Kata maaf itu sudah tidak ada gunanya lagi! Gak akan pernah bisa merubah keadaan. Aku benar-benar kecewa. Tinggalin aku sendiri dan jangan pernah lagi muncul dihadapanku!” Pertengkaran dengan Mentari tadi siang masih terekam jelas sampai sekarang.membuat dadaku makin terasa sesak. Mata yang semula kering mulai basah oleh airmata.
“Mel…” Buru-buru kuusap airmataku saat mendengar suara Lingga, kakakku satu-satunya, melihatku berdiri di depan jendela. Aku berbalik dan menghampirinya di ambang pintu.
“Mel, hari ini Mentari tidak kemari?”
“Mentari tidak akan pernah kesini lagi, kak…” Aku melihat ekspresi wajah kakakku yang penuh tanya. “Ya, karena Mentari sangat sibuk dengan kegiatan sekolah. Dia kan ketua OSIS, kak .” Aku mencoba menawarkan senyum semanis mungkin di depan Lingga. Meski itu rasanya sulit sekali. Maaf Lingga, aku harus berbohong, karena aku tak bisa melihatmu bersedih juga. Karena aku tahu, semua yang kau alami ini sudah membuatmu hancur. Batinku berbicara sendiri. Pikiranku menerawang jauh. Ada bayangan Mentari disana. Aku tak pernah bisa membayangkan, setega itukah Mentari kepadaku? Hingga dia juga harus melukai Lingga.Kejadian itu sudah 3 minggu berlalu,namun meninggalkan luka yang cukup dalam bagiku dan bagi Lingga juga. saat Lingga menjadi korban dari tabrak lari. Dan yang membuatku begitu hancur adalah saat aku harus menerima kenyataan bahwa sahabatku sendiri, Mentari yang melakukan semua itu. Dan karena dia juga, Lingga harus duduk di kursi roda dalam waktu yang sangat lama. Lingga adalah calon dokter. Dan gelar sarjana cumlaudenya itu sudah tak berarti apa-apa.
“Kau kenapa,Mel? Kau menangis?” Aku segera mengusap airmataku. Aku merubah posisiku, menghadap ke arah Lingga.
“Andai saja kaki Melodi bisa ditukar dengan kaki kakak, Melodi akan berikan itu.” Lingga menatapku lekat-lekat, dengan hiasan senyuman di bibirnya. Lingga meraih bahuku dan memelukku. Kubalas pelukan Lingga. Airmataku makin deras dalam dekapannya. Lingga, satu-satunya yang kupunya selama ini di hidupku. Setelah ayah dan ibu pergi, aku sekuat tenaga menjaga Lingga. Aku tak ingin dia terluka lagi.
Kebiasaanku untuk bangun pagi dan kemudian menyiapkan sarapan untuk Lingga. Kulihat keluar jendela. Hari tampak cerah. Kuayunkan kaki menuju gerbang masa depan.Sesampai di muka sekolah, aku melihat Mentari berlari ke arahku. Segera kupercepat langkah kakiku, namun tetap saja Mentari mengejar.
“Mel, Melodi…tunggu !!” Aku mencoba untuk pergi, namun cengkraman tangan Mentari memaksaku untuk tinggal bersamanya di tempat itu. “Melodi, apa kamu belum bisa memaafkanku? Aku mohon maafin aku…”
“Seperti apapun kamu mengiba kepadaku, setelah apa yang telah kau lakukan Tari, sampai menangis darahpun aku tidak pernah memaafkan seorang penghianat.!” Bentakku padanya. Aku mengibaskan tanganku dnegan kasar hingga tubuh Mentari terdorong dan terjatuh. Aku segera melangkah pergi, tanpa menghiraukan Mentari yang terus memanggil namaku. Tanpa terasa pula, airmataku mulai menggenang di pelupuk mata.Aku segera berlari dan menghapus airmata itu. Airmata penyesalan.
****
Pagi ini aku bangun kesiangan. Mungkin karena tidurku semalam terlalu nyenyak. Dengan langkah gontai dan mata setengah tertutup aku berjalan ke arah kamar mandi. Dengan malas aku mengguyur tubuhku dengan air. Sejenak kepenatan sedikit berkurang. Dari celah jendela, sinar matahari menelusup, mencoba mengintip. Di baris sinarnya ada bayangan Mentari dan diriku disana. Dan aku kembali hanyut dalam kekecewaanku. Aku segera bergegegas memasang arlojiku, dan menuju ke ruang makan. Mencomot sedikit roti selai yang tersedia di atas meja. Dengan mulut penuh, aku berlari keluar menemui Angga-teman sekelasku-yang sudah stand by dari tadi. Motornya melaju dengan cepat. Melintasi beberapa lorong-lorong kecil di sebuah gang sempit. Kompleks tuna wisma dan sebuah taman yang lebar. Hijau ,rimbun penuh dengan pepohonan. Disanalah dulu, aku dan Mentari menjalani waktu bersama. Ada sedikit yang mengganggu pikiranku. Untung saja gerbang sekolah masih terbuka lebar. Syukurlah. Kami bersama menuju kelas, tertawa bersenda gurau. Tak sadar banyak mata memperhatikan kami saat itu.
“Mel…” Seketika senyumku hilang melihat Mentari tiba-tiba ada di hadapan kami berdua. “Kenapa kamu tidak angkat telponku semalam?? Sebegitu bencinya kamu ke aku,Mel?” Aku terkejut. Semalam? Ohh…mungkinkah Tari menelponku saat aku tertidur?
“Penting aku jawab telpon kamu ?” Aku segera pergi meninggalkan Tari dengan kesedihannya. Aku tahu, Mentari sangat tersakiti dengan ucapanku. Begitupun aku, yang lebih sakit menerima kenyataan. Aku berhenti di lorong sekolah. Kutahan tangisku dengan sebelah tanganku.
“Mel…” Aku masih tak menggubris Angga memanggilku. Dan baru tersadar, Ya Tuhan…Aku segera melepas tangan Angga dari genggaman tanganku. Angga menatapku lekat, membuatku tak berani untuk membalas tatapannya.
“Mel, apa kamu belum bisa buka hati kamu untuk Tari? Dia ngelakuin apapun untuk meminta maaf kamu .” Aku terdiam. Diam karena tak ingin mendustai perasaanku sendiri. Aku tak pernah ingin melukai siapapun. Bahkan Tari sekalipun. Tetapi dia juga yang sudah merubahku menjadi seperti ini. Melodi yang keras, dan Melodi yang sulit memaafkan orang lain. Aku makin terisak. Kurasakan sebuah sentuhan hangat di pipiku, membuatku merasa lebih tenang.Aku mengangkat wajahku dan mulai berani menatap Angga. Tangannya menghapus airmata yang turun lagi.
Esoknya aku segera bergegas ke sekolah setelah membuat sarapan untuk Lingga. Baru saja keluar pintu, Angga sudah berdiri disitu, bersiul-siul kecil. Tanpa berkata-kata Angga menarik tanganku dan motor Angga sudah melaju dengan kencang. Sesampainya di sekolah aku berjalan sendiri tanpa Angga. Karena hari ini dia ada jadwal piket di ruang ekspresi
“Mel…” Aku terkejut saat Tari lagi-lagi muncul dihadapanku dengan tiba-tiba. Mentari menyodorkan sebuah kotak berwarna biru yang ukurannya agak besar padaku.
“Apa maksud kamu dengan semua ini ? Kamu fikir aku akan luluh dengan pemberian kamu…” Aku melemparnya, hingga isinya berserakan.
“Mel, kamu apa-apan sih ?” Tari segera memungut kotak itu.
“Kamu yang apa-apaan ! Dasar gak tahu diri !!” Aku meninggalkannya dengan perasaan kacau. Aku terus berlari meninggalkan Mentari dan bertemu Angga di depan koridor. Angga menarik tanganku membawaku berlari dan berhenti di depan pintu ruang ekspresi.
“Kamu buka pintunya!” Aku masih terdiam. Takut-takut Angga mengerjaiku lagi seperti waktu itu. Aku menatapnya dengan serius. “Aku gak bakalan ngerjain kamu! Udah buka aja!” Selangkah demi selangkah aku menuju ke arah pintu dan memutar perlahan engsenl pintu.
“Happy Birthday, Melodi…” Aku terkejut. Siapa yang ulang tahun? Ohhh…ya ampun, bahkan aku lupa hari ini adalah hari ulangtahunku. Satu persatu teman-teman sekelasku mengucapkan selamat. Vernina memelukku. Tapi kenapa aku merasa ada yang kurang? Kemudian aku melihatnya, Mentari, melintas ruangan itu. Menatapku sejenak. Begitu pula aku. Ulang tahun pertama tanpa Mentari adalah ulang tahun terburuk yang aku dapatkan seumur hidupku. Airmata itu kembali menggenang. Namun untung saja aku mampu membendungnya.Sepulang sekolah Angga mengajakku ke suatu tempat. Dia bilang ada sesuatu yang ingin dia berikan padaku.
“Ga, sebenarnya yang nyiapin surprise party itu tadi??? Kamu kan juga gak tahu, Ga. Satu-satunya orang yang tahu hari ultahku itu….” Aku menghentikan kalimatku, Mentari. Itu jawaban dari pertanyaanku sendiri. Nama itu kembali muncul dan mengusikku. “Siapa ,Ga???”
“Tanpa kujawab, kau pasti sudah tahu jawabannya. Kita sudah sampai…” Aku segera turun dari motornya. Angga membawaku ke café Dungon Dugon. Sebelumnya Angga sudah membooking salah satu meja untuk kami berdua. Meja paling depan di dekat seorang pianis yang memainkan pianonya. Pikiranku kembali meracau. Ini adalah tempat faforitku. Aku sendiri juga tidak tahu mengapa café ini menjadi tempat faforitku.Mungkin karena namanya yang langka dan juga di tempat ini pulalah, aku dan Mentari selalu menghabiskan waktu bersama.Dulu, kami selalu datang ke tempat ini sepulang sekolah. Dan kursi yang aku tempati sekarang adalah tempat biasa aku duduk bersama Mentari. Meja paling dekat dengan piano. Mentari sangat suka mendengarkan melodi klasik. Aku melihat bayanganku sendiri bersama Mentari. Berjalan sambil bercanda melewati kursi-kursi lainnya dan memilih sebuah kursi paling depan. Tiap kali kemari, pasti Mentari selalu memesan Ice cream vanilla. Dia bilang, sejak kecil almarhum mamanya sering membelikannya ice cream rasa vanilla saat dia sedang merasa sedih atau sedang bosan. Perlahan bayangan itu memudar. Berubah wujud menjadi Angga. Hanya terlihat samar bayangan Mentari yang tersenyum padaku di masa lalu.
“Mel…” Angga membuyarkan lamunanku.
“Iya, kenapa?
“Kamu yang kenapa. Aku dicuekin. Ya udah, lupain aja. Kamu tunggu sebentar ya!” Pinta Angga padaku. Dia meninggalkanku sendiri. Kulihat Angga naik ke atas podium dan duduk di depan piano.
“Lagu ini untuk seseorang !” Dia melirik ke arahku.Aku tersipu dibuuatnya saat Angga menunjukku dan semua mata tertuju padaku, memandangku dengan tatapan berbeda-beda.Aneh rasanya melihat Angga seperti itu. Aku terkejut saat Angga mulai menekan tuts-tuts piano dan aku bisa menebak apa lagu yang dimainkannya. Itu Gift of a Friendnya Demi Lovato. Dan itu adalah lagu faforitku. Faforit Mentari juga. Lagu itu dimainkan dengan nada yang sedemikian rupa, berbeda dengan aslinya.
The beauty you all when you open your heart,
And believe in… The gift of a friend…
Kalimat terakhir lagu itu kembali membawaku dalam bayangan bersama mentari. Hanya sepintas. Aku melihat Angga tersenyum ke arahku , membuatku menjadi salah tingkah. Hingga dia mengantarkanku pulang, aku tak bisa berkata apa-apa.
“Aku pulang ya.” Aku mengangguk.” Oh ya, itu tadi hadiah untuk kamu…” Setelah mengucapkan itu Angga segera memacu kencang motornya. Makasih, Ga. Gumamku dalam hati.
Malam ini terasa begitu gelap. Maksudku, mungkin karena sedang mendung di luar. Ku pandangi satu-satu foto-foto yang terpajang di ruang keluarga. Foto ibu, foto ayah, dan fotoku juga Lingga. Kuusap lembut wajah ibu dan ayah dalam foto itu. Membuatku sulit tidur malam ini. Entah mengapa malam ini aku begitu galau. Kulihat jam dinding di ruang tengah masih pukul 21.00. Ting…Tonggg…Siapa bertamu malam-malam seperti ini ? Aku segera menuju pintu dan membukanya.
“Mau apa lagi? Masih berani datang kemari?”
“Mel, aku minta maaf sama kamu.Aku mohon maafin aku, aku mohon,Mel…”
“Aku gak mau denger kata maaf itu dari kamu!”
“Aku tahu ,mel. Tapi aku ingin persahabatan kita seperti dulu lagi.”
“Sahabat? Apa kamu sahabatku? Yang aku tahu kamu adalah penghianat. Dan kamu tahu, semua sudah terlambat !”
“Aku tahu ,Mel semua ini udah terlambat. Tapi ijinkan aku bicara sama kamu, beri aku kesempatan, 5 menit aja.!” Aku hanya terdiam ,memalingkan pandanganku darinya.
“Andai saja ada yang lebih mulia dari kata maaf, pasti akan aku ucapin ke kamu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu. Aku menyesal. Aku tulus meminta maaf kamu. Aku sadar, aku sangat menyayangi kamu. Aku gak bisa kehilangan kamu,Mel. Aku gak mau kehilangan sahabat seperti kamu. Ini memang terlambat, untuk membuka hati kamu dan memberiku kesempatan sekali lagi. Aku sadar, apa yang sudah kulakukan sangat menyakitimu. Dan jujur aku juga.” Aku menatap matanya. Kulihat matanya memerah menahan airmata yang akhirnya jatuh.“Aku sudah berusaha melakukan apapun, segala hal, segala cara untuk membuka hati kamu. Tapi sayangnya , hati itu sudah tertutup rapat. Aku berjanji tidak akan mengusikmu dan ini permintaan maaf terakhirku. Bagaimanapun juga kamu tetap sahabatku, apapun yang terjadi. Ya udah, makasih kamu masih mau beri aku kesempatan. Sudah 5 menit,kan? Aku permisi ,Melodi.”Mentari tersenyum padaku sebelum akhirnya dia benar-benar pergi dari hadapanku. Perlahan airmataku kembali mengalir. Menatap kepergian Mentari. Ada bias kebahagiaan dalam senyuman itu, senyuman yang begitu dalam. Aku masih berdiri disitu, memandang kepergian Mentari yang mulai dimakan gelap. Bayangannya hilang diantara temaramnya lampu jalanan. Aku segera menutup pintu melempar badanku ke atas ranjang. Mencoba memejamkan mata namun pikiranku selalu terusik oleh kalimat Tari. Namun perlahan, angin malam mulai menggodaku. Membuat mataku terkatup, dan aku mulai terpejam.Melintasi awang-awang nirwana. Sepintas, semu bayangan Mentari muncul di sela tidurku.
Semalam begitu cepat rasanya. Aku beranjak dari tempat tidurku, membasuh muka dan menuju teras depan dan berdiri di ambang pintu. Kupandangi tempat itu. Semalam baru saja aku bersama Mentari setelah sekian lama kami tidak pernah bersama dan sedekat seperti malam itu. Kalimatnya begitu lekat di kepalaku. Tiba-tiba Angga muncul tanpa motornya dan menarik tanganku. Dan membaawaku pergi. Kami berhenti di sebuah taman. Lagi-lagi, Angga membawaku ke tempat kenanganku bersama Tari. Kenangan yang paling banyak terjadi di taman ini.
“Mau apa kita kesini ?”
“Aku hanya ingin membawamu kesini aja….” Dari kejauhan aku melihat bayangan Mentari dan diriku .Kali ini tampak jelas sekali.Berkali-kali aku menepisnya, tapi bayangan itu semakin jelas dan tak mau enyah dari pandanganku.
“Pagi ini indah ya,Mel. Lihat matahari akan terbit.” Mentari menunjuk warna jingga yang mulai muncul di sela-sela perbukitan yang tampak indah. “Kamu tahu,Mel. Aku ingin sekali menjadi mentari...”
“Kenapa harus menjadi matahari?”
“Aku ingin sekali menjadi matahari. Karena aku ingin selalu menyapa kamu di pagi hari dan menemani sepanjang hari kamu,Mel. Karena Mentari untuk Melodi…” Itulah kata-kata terakhir Mentari yang masih aku ingat betul. Dan sekarang hanyalah ada kata maaf darinya.
“Kamu kenapa,Mel?” Aku terdiam. “Aku tahu, tempat ini adalah tempat biasa kamu dan Mentari selalu bersama…” Kutatap sepasang mata itu di depanku, mencoba mencari makna dari kata-katanya. Pandangan kami saling beradu. Aku terbuai dengan tatapan itu, namun sesaat wajah Angga berubah menjadi wajah Mentari. Yang kulihat adalah senyuman Mentari. Airmataku menetes. Kupalingkan pandanganku darinya. Angga menyeka airmataku. Aku hanya terdiam tanpa berkata-kata. Dibawanya diriku dalam pelukannya.
“Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan,Mel. Tapi biarlah aku selalu menjaga kamu, menghapus airmata kamu. Airmata kamu terlalu berharga untukku ,Melodi…” Angga melepas pelukannya dan menggenggam tanganku. Aku menatap matanya. Menangkap sebuah sinar di matanya. Itu sinar Mentari. Aku tersenyum. Mentari selalu ada dimanapun aku berada. Angga tersenyum menatapku dan megngandengku meninggalkan taman itu. Aku menoleh ke belakang, bayangan itu muncul lagi. Kulihat lambaian tangan Mentari ke arahku. Dan perlahan memudar dengan pasti.
Sejak pertemuan terakhirku dengan Mentari, aku tak pernah melihatnya di sekolah.Dia benar-benar menepati janjinya untuk pergi dari kehidupanku. Jujur, rasanya aku tak rela melepas Mentari begitu saja. Aku merasakan kerinduan pada sahabaku Mentari. Belum terlambat aku menemuinya untuk mengutarakan semua ini. Segera kuraih tasku, dan secarik kertas jatuh ke lantai. Aku memungutnya. Kertas itu adalah pesan dari Tari bahwa dia ingin bertemu denganku sore ini. Aku segera berlari mencari Mentari. Tetapi Tari tak kunjung kutemukan, ke setiap sudut ruangan, tiap sudut sekolah, tiap koridor. Bahkan di kelasnya. Mentari tidak ada.
Aku terlalu asyik mengotak atik twitter dan tanpa sadar tertidur pulas di depan televisi. Saat aku terbangun, aku melirik jam dinding. Aku melompat dari sofa meraih jaketku dan berlari menuju taman.Sesampainya disana ,tak kutemukan siapapun. Hanya ada sebuah kotak berwarna biru tergeletak di bangku taman yang sempat kubuang waktu Mentari memberikannya padaku. Aku duduk di bangku taman dan membuka bingkisan itu. Kugeledah semua isi kotak itu. Di dalamnya ada berlembar-lembar fotoku bersama Mentari. Ada beberapa surat yang isinya tentang kisahku dan Mentari. Aku tak mampu menahan airmataku. Aku mulai terisak disitu sambil menatap satu-satu foto-foto kami. Dia benar-benar menjaga dengan baik bukti persahabatan yang pernah terjalin. Sebuah surat kecil terselip diantara foto-foto kenangan itu.
Happy Birthday Melodi. Ini yang ingin aku katakan saat aku menyerahkan bingkisan ini padamu namun kau menolaknya. Semua di dalam kotak ini adalah hidupku dan aku selalu menjaganya.Ini kado persahabatan dariku semoga kamu menyukainya. Aku tahu kamu pasti datang tapi waktuku tak banyak,Mel. Saat matahari tenggelam dan saat itu pulalah Mentari pergi. Dan lihatlah esok mentari akan hadir lagi bersamamu. Karena Mentari untuk Melodi…
Airmata itu makin deras. Beribu penyesalan mulai menyergap. 10 menit yang lalu harusnya aku tidak terlambat. 10 menit yang lalu harusnya aku disini, dan 10 menit yang lalu harusnya aku masih bersama Mentari disini. 10 menit berlalu Mentari tak hanya menjauh dari kehidupanku, tapi dia juga sudah meninggalkan kehidupanku selamanya.
“Aku tahu aku terlambat mengatakan ini padamu Tari. Aku juga menyayangimu. Aku bisa merasakan kamu ada disini Mentari, maafkan keegoisanku…” Aku menggumam sendiri. Memeluk erat bingkisan-bingkisan itu.
Perlahan mentari mulai turun menghilang bersamaan dengan hilangnya Mentari. Samar-samar terlihat bayangan Mentari di garis sinar yang mulai redup. Dan bayangan yang pernah ada di tempat itu kembali hadir lagi. Dibalik matahari yang kian tenggelam, bayangan Mentari terlihat diantara warna senja yang semakin menghilang bersama sebuah senyuman dan lambaian tangannya. Aku memandangnya dengan senyum yang berderai airmata. Dan kemudian bayangannya menghilang tak berbekas sama sekali. Ku tinggalkan kenanganku yang mulai memudar dengan pasti. Lirih kudengar sayup-sayup canda dan tawa dua anak manusia yang kini harus terpisah jauh karena keadaan.

Cerpen Sekotak Impian (cerpen quarted pertamaku)

Mendung mulai menggelayut di atas awan kota Jogja. Semua hiruk pikuk berubah menjadi keheningan, seketika air mulai tertumpah dari sana. Para pejalan kaki yang menuju malioboro segera berteduh. Dari kejauhan, terlihat seorang anak bertambah keras berjalan di tiap emperan toko yang dipenuhi orang-orang yang sedang berteduh di situ. Bajunya yang lusuh basah kuyup karena hujan bercampur keringat. Dengan sebuah kotak kecil yang dibawanya dia lari menembus hujan.
            "semir Pak, Semir bu, mbk . . Mas . . . " sapanya dengan ramah kepada tiap orang yang ditemuinya sepajang jalan itu. Semua orang tak mengubris dan hak memandangnya risih seraya menjauh dari boch kecil itu. Dengan rasa kecewa,ditinggalkannya kawasan malioboro menuju rumahnya yang berada di sekitar pinggiran kali Code. Bocah kecil itu berlari melewati jembatan, sedangkan hujan yang makin deras membuatnya berlari makin kencang.
            Tibalah dia di depan sebuah rumah kecil yang berbentuk bilik kotak yang sudah usang. Atapnya hanya terbuat dari papan yang hampir lapuk termakan usia. Lantainya hanya beralaskan banar dan jerami. Hanya sebuah lampu senter kecil yg menerangi bilik kecil itu. Bersama seorang kakek, Elang tinggal di dalamnya.
            Elang, itulah nama bocah kecil itu. Dunia telah mengeliminasi dirinya dari sebuah kehidupan nyata yang harus dilaluinya sendiri. Berjalan di atas roda waktu yang tiap saat mengurangi usianya. Terlahir sebagai penderita HIV sejak bayi memaksa ortunya membuang dan mengasingkannya begitu saja.
Untunglah ada seorng kakek yg berhati mulia yang mau merawat Elang dengang kondisinya yg memprihatinkn.

Kakek damar adalah seorang pemulung yang usianya hampir 60th. di waktu mudanya dulu dia dikenal sebagai seorang dokter yg disegani masyarakat. Namun,setelah menikah dan mempunyai cucu, anak-anaknya membawa kakek Damar ke panti jompo. Kakek damar yang kecewa dengan sikap anak-anaknya akhirnya melarikan dari panti itu dan memilh hidup sendiri selama hampir 10th di pinggiran kali Code di sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Kakek damar sendiri juga mengerti dengan keadaan yang sedang dialami Elang. Sebagai mantan dokter, dia masih memiliki sebagian memori tentang ilmu kedokteran meskipun ingatannya tak sekuat dulu. Penyakit HIV turunan orang tua Elang lah yang membuat Elang jga harus menanggungnya.

 Elang yang baru berumur 9th itupun menerima keadaannya dengan ikhlas. Yang dia tau bahwa Tuhan telah mengariskan hidupnya seperti itu. Meskipun terkadang sikap diskriminasi masyarakat meninggalkan siksaan batin yang cukup dalam.

Di usia kakek Damar yang mulai senja, kakek damar renta sekali dan sering sakit-sakitan. 2 bulan ini kakek damar hanya dapat terbaring tanpa mampu melakukan apapun. Kakek damar lumpuh setelah jatuh dari sepeda tuanya yang sudah tua. Elanglah yang bekerja keras mencari uang menyembuhkan sang kakek meskipun kondisinya sendiri sudah semakin memburuk.

Diletakanya kotak yang dibawanya seharian tadi di sudut ruangan dan dikeluarkannya sebungkus nasi dari dalamnya. Disuapkan nasi itu kepada kakek Damar dengan perlahan dan kasih sayang. Tiba-tiba Elang merasa badannya lemas dan lemah. Lalu dia limbung di sisi kakek Damar. Nasipun tertumpah berserakan. Semetara kakak Damar yang kesulitan bangkit, hanya mampu memanggil nama Elang sembari menggerak-gerakan badan cucunya itu.
30mnt kemudian, Elang terbangun. Didapatinya kakek Damar yang juga terlelap di sampingnya. Setetes airmata mengali di kedua pipinya. Dipandangnya wajah kakek damar sembari tersenyum di antara airmatanya yang berderai. Didekatkan badannya sedekat mungkin dengan kakek damar. Senja yang telah hilang, membawa petang ke ujung hari, di sisi kakek Damar, Elang kembali terpejam. Kali ini asanya menerawang jauh melewati kabut putih di ujung nirwana.

Waktu berjalan cepat, memanggil sang raja siang kembali menuai cahaya. Subuh-subuh skali Elang pergi ke surau tua untuk sembahyang dan menimba air sumur di sana. Dibawanya dua jirigen penuh dengan sedikit langkah yang agak serat. Setibanya di rumah, diletakanya jirigen-jerigen itu di sudut bilik. Kemudian diambilnya segera kotak harapan di samping jirigen tadi, sambil berjalan menuju ke arah kakek damar, elang berpamitan.

"elang berangkt ya kek. Kakek harus sembuh " ucap elang polos. Kakek damar tersenyum dan mengangguk.

"iya, hati-hatilah, Lang, dan cepatlah kembali" pesan kakek damar pada elang. Diciumnya punggung tangan kanan kakek damar dan kemudian elang segera melesat pergi berlari melewati jembatan menuju arah alun-alun utara kota Jogja. Elang kembali menawarkan jasanya pada orang-orang yang ada disitu, namun lagi-lagi sebuah penolakan yang didapatnya. Desas desus tentang dirinya memang sudah menyebar di masyarakat bahwa darinya adalah penderita HIV. Elang menunduk memutuskan beristrahat di depan emperan ruko. Dia berpikir bagaimana cara mendapatkan biaya untuk kakeknya sedangkan kondisinya saat ini sudah sangat buruk.

Sebuah benda membentur bagian belakang kepalanya. Elang merings sambil mengelus bagian belakang kepalanya yang berdarah.

"Pergi!! Ngapain disini? Nyebar penyakit aja! Pergi!" gertak penjaga toko dengan kasar. Elang berdiri dan menoleh pada suara itu. Ternyata Sebuah penebah kasur yang telah melukai kepalanya dan teganya pemilik ruko itu melemparkan benda itu tepat ke arah kepalanya.


Tanpa pikir panjang, Elang segera pergi. Energinya hampir habis untuk berlari.
Belum ada sepeserpun uang yang di dapatnya, dan hati kecil itu kembali menangis di antara luka dan duka yang dihadapinya
Disaat hatinya sedih karena perlakuan orang-orang terhadapnya, saat itulah datang seorang anak yang usianya sekitar 17 tahun. Wajahnya bersih terawat, tapi senyumnya nampak bersahabat. Melihat Elang yang diperlakukan kasar ia mendekat dan mencoba menghibur. Lelaki remaja itu mengajaknya duduk di tangga ruko yang tak jauh dari emperan toko tadi. Mereka berbincang dan berbagi cerita, disanalah elang tau lelaki itu mencari kakeknya. Elang jd teringat kakeknya dan saat itu juga air matanya meleleh. Remaja itu terharu dan memaksa elang membawanya ke gubuk tempat kakek. Setengah berlari mereka menuju rumah, dan saat melihat sang kakek yg terbaring lemah, lelaki itu berteriak sambil berlari. "kakek!" ia memeluk kakeknya yang terbaring. Rupanya ia adalah cucu kandung dari kakek. Dan langsung membawa kakek ke Rumah sakit.
Prayoga terlihat mondar mandir di antara 2 ruang yang agak berjauhan. Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan kakek. Prayoga segera berlari ke arah dokter dan menanyakan keadaan kakek damar.

"Maaf mas, kami sudah berusaha namun tuhan berkehendak lain" Dokter menepuk bahu Prayoga dan kemudian meninggalkannya di ruangan hanya sendirian. Prayoga terdiam. Tubuhnya gemetar, lidahnyapun keluar untuk mengucap sebuah kata. Sementara di dalam ruangan lain, Elang masih terbaring lemah. Masih digenggamnya kotak semir sepatu yang selama ini menjadi sumber kehidupannya. Matanya tak mau terbuka, tubuhnya pun tak bergerak sama sekali. Sementara dokter dan para suster sedang memasang alat-alat untuk menopang kehidupannya.

Di dalam tidurnya, elang bermimpi. Menembus cahaya putih yang silau. Di balik cahaya itu, ia melihat kakek damar yang sedang menunggunya dengan senyuman.

"kakek..." elang berlari ke arah kakek damar.

Dipeluknya erat sang kakek dengan penuh kasih sayang.

"kakek sudah sembuh ya?" tanyanya polos. Kakek damar mengangguk.


"ayo Elang, kita harus pulang, kau harus banyak istirahat" kakek damar trsnyum kemudian berjalan meninggalkan tempat itu sambil mengandeng tangan elang.
Elang tersenyum bahagia, wajahnya terlihat berseri dari biasanya. Bersama sekotak impiannya Elang bernyanyi nyanyi riang.
Sejenak Elang menoleh ke belakang lalu tersenyum. Cahaya itu kemudian memudar. Perlahan senja mulai merayap ke ujung hari. Bersamaan dengan itu samar terdengar dari jauh tawa bocah kecil di penghujung impiannya

Viewers

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "