Mendung mulai menggelayut di atas awan kota Jogja. Semua hiruk pikuk berubah menjadi keheningan, seketika air mulai tertumpah dari sana. Para pejalan kaki yang menuju malioboro segera berteduh. Dari kejauhan, terlihat seorang anak bertambah keras berjalan di tiap emperan toko yang dipenuhi orang-orang yang sedang berteduh di situ. Bajunya yang lusuh basah kuyup karena hujan bercampur keringat. Dengan sebuah kotak kecil yang dibawanya dia lari menembus hujan.
"semir Pak, Semir bu, mbk . . Mas . . . " sapanya dengan ramah kepada tiap orang yang ditemuinya sepajang jalan itu. Semua orang tak mengubris dan hak memandangnya risih seraya menjauh dari boch kecil itu. Dengan rasa kecewa,ditinggalkannya kawasan malioboro menuju rumahnya yang berada di sekitar pinggiran kali Code. Bocah kecil itu berlari melewati jembatan, sedangkan hujan yang makin deras membuatnya berlari makin kencang.
Tibalah dia di depan sebuah rumah kecil yang berbentuk bilik kotak yang sudah usang. Atapnya hanya terbuat dari papan yang hampir lapuk termakan usia. Lantainya hanya beralaskan banar dan jerami. Hanya sebuah lampu senter kecil yg menerangi bilik kecil itu. Bersama seorang kakek, Elang tinggal di dalamnya.
Elang, itulah nama bocah kecil itu. Dunia telah mengeliminasi dirinya dari sebuah kehidupan nyata yang harus dilaluinya sendiri. Berjalan di atas roda waktu yang tiap saat mengurangi usianya. Terlahir sebagai penderita HIV sejak bayi memaksa ortunya membuang dan mengasingkannya begitu saja.
Untunglah ada seorng kakek yg berhati mulia yang mau merawat Elang dengang kondisinya yg memprihatinkn.
Kakek damar adalah seorang pemulung yang usianya hampir 60th. di waktu mudanya dulu dia dikenal sebagai seorang dokter yg disegani masyarakat. Namun,setelah menikah dan mempunyai cucu, anak-anaknya membawa kakek Damar ke panti jompo. Kakek damar yang kecewa dengan sikap anak-anaknya akhirnya melarikan dari panti itu dan memilh hidup sendiri selama hampir 10th di pinggiran kali Code di sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Kakek damar sendiri juga mengerti dengan keadaan yang sedang dialami Elang. Sebagai mantan dokter, dia masih memiliki sebagian memori tentang ilmu kedokteran meskipun ingatannya tak sekuat dulu. Penyakit HIV turunan orang tua Elang lah yang membuat Elang jga harus menanggungnya.
Elang yang baru berumur 9th itupun menerima keadaannya dengan ikhlas. Yang dia tau bahwa Tuhan telah mengariskan hidupnya seperti itu. Meskipun terkadang sikap diskriminasi masyarakat meninggalkan siksaan batin yang cukup dalam.
Di usia kakek Damar yang mulai senja, kakek damar renta sekali dan sering sakit-sakitan. 2 bulan ini kakek damar hanya dapat terbaring tanpa mampu melakukan apapun. Kakek damar lumpuh setelah jatuh dari sepeda tuanya yang sudah tua. Elanglah yang bekerja keras mencari uang menyembuhkan sang kakek meskipun kondisinya sendiri sudah semakin memburuk.
Diletakanya kotak yang dibawanya seharian tadi di sudut ruangan dan dikeluarkannya sebungkus nasi dari dalamnya. Disuapkan nasi itu kepada kakek Damar dengan perlahan dan kasih sayang. Tiba-tiba Elang merasa badannya lemas dan lemah. Lalu dia limbung di sisi kakek Damar. Nasipun tertumpah berserakan. Semetara kakak Damar yang kesulitan bangkit, hanya mampu memanggil nama Elang sembari menggerak-gerakan badan cucunya itu.
30mnt kemudian, Elang terbangun. Didapatinya kakek Damar yang juga terlelap di sampingnya. Setetes airmata mengali di kedua pipinya. Dipandangnya wajah kakek damar sembari tersenyum di antara airmatanya yang berderai. Didekatkan badannya sedekat mungkin dengan kakek damar. Senja yang telah hilang, membawa petang ke ujung hari, di sisi kakek Damar, Elang kembali terpejam. Kali ini asanya menerawang jauh melewati kabut putih di ujung nirwana.
Waktu berjalan cepat, memanggil sang raja siang kembali menuai cahaya. Subuh-subuh skali Elang pergi ke surau tua untuk sembahyang dan menimba air sumur di sana. Dibawanya dua jirigen penuh dengan sedikit langkah yang agak serat. Setibanya di rumah, diletakanya jirigen-jerigen itu di sudut bilik. Kemudian diambilnya segera kotak harapan di samping jirigen tadi, sambil berjalan menuju ke arah kakek damar, elang berpamitan.
"elang berangkt ya kek. Kakek harus sembuh " ucap elang polos. Kakek damar tersenyum dan mengangguk.
"iya, hati-hatilah, Lang, dan cepatlah kembali" pesan kakek damar pada elang. Diciumnya punggung tangan kanan kakek damar dan kemudian elang segera melesat pergi berlari melewati jembatan menuju arah alun-alun utara kota Jogja. Elang kembali menawarkan jasanya pada orang-orang yang ada disitu, namun lagi-lagi sebuah penolakan yang didapatnya. Desas desus tentang dirinya memang sudah menyebar di masyarakat bahwa darinya adalah penderita HIV. Elang menunduk memutuskan beristrahat di depan emperan ruko. Dia berpikir bagaimana cara mendapatkan biaya untuk kakeknya sedangkan kondisinya saat ini sudah sangat buruk.
Sebuah benda membentur bagian belakang kepalanya. Elang merings sambil mengelus bagian belakang kepalanya yang berdarah.
"Pergi!! Ngapain disini? Nyebar penyakit aja! Pergi!" gertak penjaga toko dengan kasar. Elang berdiri dan menoleh pada suara itu. Ternyata Sebuah penebah kasur yang telah melukai kepalanya dan teganya pemilik ruko itu melemparkan benda itu tepat ke arah kepalanya.
Tanpa pikir panjang, Elang segera pergi. Energinya hampir habis untuk berlari.
Belum ada sepeserpun uang yang di dapatnya, dan hati kecil itu kembali menangis di antara luka dan duka yang dihadapinya
Disaat hatinya sedih karena perlakuan orang-orang terhadapnya, saat itulah datang seorang anak yang usianya sekitar 17 tahun. Wajahnya bersih terawat, tapi senyumnya nampak bersahabat. Melihat Elang yang diperlakukan kasar ia mendekat dan mencoba menghibur. Lelaki remaja itu mengajaknya duduk di tangga ruko yang tak jauh dari emperan toko tadi. Mereka berbincang dan berbagi cerita, disanalah elang tau lelaki itu mencari kakeknya. Elang jd teringat kakeknya dan saat itu juga air matanya meleleh. Remaja itu terharu dan memaksa elang membawanya ke gubuk tempat kakek. Setengah berlari mereka menuju rumah, dan saat melihat sang kakek yg terbaring lemah, lelaki itu berteriak sambil berlari. "kakek!" ia memeluk kakeknya yang terbaring. Rupanya ia adalah cucu kandung dari kakek. Dan langsung membawa kakek ke Rumah sakit.
Prayoga terlihat mondar mandir di antara 2 ruang yang agak berjauhan. Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan kakek. Prayoga segera berlari ke arah dokter dan menanyakan keadaan kakek damar.
"Maaf mas, kami sudah berusaha namun tuhan berkehendak lain" Dokter menepuk bahu Prayoga dan kemudian meninggalkannya di ruangan hanya sendirian. Prayoga terdiam. Tubuhnya gemetar, lidahnyapun keluar untuk mengucap sebuah kata. Sementara di dalam ruangan lain, Elang masih terbaring lemah. Masih digenggamnya kotak semir sepatu yang selama ini menjadi sumber kehidupannya. Matanya tak mau terbuka, tubuhnya pun tak bergerak sama sekali. Sementara dokter dan para suster sedang memasang alat-alat untuk menopang kehidupannya.
Di dalam tidurnya, elang bermimpi. Menembus cahaya putih yang silau. Di balik cahaya itu, ia melihat kakek damar yang sedang menunggunya dengan senyuman.
"kakek..." elang berlari ke arah kakek damar.
Dipeluknya erat sang kakek dengan penuh kasih sayang.
"kakek sudah sembuh ya?" tanyanya polos. Kakek damar mengangguk.
"ayo Elang, kita harus pulang, kau harus banyak istirahat" kakek damar trsnyum kemudian berjalan meninggalkan tempat itu sambil mengandeng tangan elang.
Elang tersenyum bahagia, wajahnya terlihat berseri dari biasanya. Bersama sekotak impiannya Elang bernyanyi nyanyi riang.
Sejenak Elang menoleh ke belakang lalu tersenyum. Cahaya itu kemudian memudar. Perlahan senja mulai merayap ke ujung hari. Bersamaan dengan itu samar terdengar dari jauh tawa bocah kecil di penghujung impiannya
Cerpen Sekotak Impian (cerpen quarted pertamaku)
01.20
Ifaa Latifa
Viewers
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "







