Sinar kuning itu membangunkanku dari lelap tidurku semalam. Serasa dipaksakan, aku bangkit dari tempat tidurku. Dengan mata setengah terpejam, kulirik jam dinding di sudut ruangan kamar.
“Ahhh…Sial ! Sepertinya aku terlambat !” Keluhku. Tanpa basa-basi, aku segera bergegas . Itulah susahnya hidup jauh dari orangtua.
Hari ini hari pertamaku masuk sekolah baru. Harusnya hari ini menjadi kesan pertama dengan sekolah baruku, tapi karena aku bangun kesiangan…”ini bukan hari yang baik”. Rupanya ini bukan hari keberuntunganku. Sesampai di muka gerbang, aku melihat banyak siswa yang juga terlambat. Hufff…setidaknya aku bisa bernafas lega. Ternyata bukan aku saja yang terlambat. Akhirnya, aku dan kawan-kawan baruku yang lain dibawa ke ruang kepsek untuk dimintai penjelasan.
“Leganya bisa keluar dari ruangan ini…” Aku bernafas lega. Pikirku saat itu, aku tidak mendapat poin untuk keterlambatanku di hari pertama masuk sekolah baru. Baru selangkah kulangkahkan kaki, ada yang mengalihkan perhatianku. Sosok yang baru saja lewat dihadapanku. Siapa dia? Aku benar-benar dibuat penasaran olehnya.. Sosok itu berhenti di depan toilet umum siswa. Tak ada siapa-siapa disitu, hanya kesunyian. Dari kejauhan aku melihat sosok itu meletakkan sesuatu yang dibawanya ke dalam loker kecil dekat toilet dan kemudian menguncinya rapat.
“Hei ! Ayo masuk! Ngapain clingak-clinguk gak jelas disini ?” Tiara mengagetkanku. Tiara adalah teman SMP ku. Sudah 3 tahun kami berkawan.
“Tidak ada..” Aku hanya tersenyum. Tiara menyeret tanganku menjauh dari tempat itu. Sejenak aku menoleh ke arah pandanganku semula. Tak ada siapa-siapa disana.
Hari berikutnya, aku semakin sering melihat sosok itu. Sosok seorang gadis, sebayaku. Tiap pagi aku selalu melihatnya membawa sesuatu yang kemudian diletakkannya di loker toilet dan begitu seterusnya yang aku lihat tiap hari.
“Sebenarnya apa yang kau lakukan tiap pagi di dekat toilet?” Tanya Tiara padaku suatu hari. Pikiranku kembali melayang pada gadis itu. “Rin?” Aku tersadar dari lamunanku, kutarik nafas panjang. Kujelaskan semua pada Tiara, apa yang aku lihat dan apa yang apa yang aku
rasakan. Bagaimanapun Tiara harus tahu tentang ini. Ternyata Tiara sendiri tak tahu siapa perempuan yang sering aku lihat di toilet siswa.
Siang itu begitu basah. Basah karena hujan tadi pagi yang masih membekas. Aku duduk di sisi taman menunggu Tiara. Ya…hari ini kami ada janji untuk bertemu. Tetapi, Tiara tak kunjung datang. Di tengah kesendirianku, aku melamunkan perempuan itu. Perempuan yang masih membuat aku bertanya-tanya.
“Hai…Boleh aku duduk di sebelahmu ?” Aku menoleh pada suara yang menyapaku. Aku tercengang, tenggorokanku terasa tercekat. Benarkah yang kulihat ini ? Setelah berpikir agak panjang aku menyuruhnya duduk di sebelahku. Kami pun berbincang tentang banyak hal.
Namanya Natsya. Dia tinggal bersama kakaknya. Hidupnya pun sangat berkecukupan. Satu tahun yang lalu orangtuanya meninggal karena dibunuh. Ya…dibunuh dengan sadis, di depan kedua mata Natsya. Mungkin itulah yang membuatnya tertutup dengan orang lain. Sejak perkenalanku dengan Natsya, kami mulai akrab. Namun, itu tak membuatnya berubah.
Satu hari setelah ujian sekolah, aku tak melihat Natsya tampak di kelas hari ini. Tak ada satupun yang tahu. Mungkin Natsya sedang ada urusan. Begitu pikirku. Aku tak ingin berpikir macam-macam.
“Ini sudah lewat minggu pertama, tapi kenapa Natsya tidak pernah masuk sekolah ?” Tanyaku pada Tiara.
“Tenanglah dulu, mungkin dia sedang ada masalah atau sesuatu yang memaksanya tidak bisa berangkat sekolah.”
“Tidak mungkin, apa dia butuh satu minggu tanpa keterangan untuk tidak masuk sekolah ?”
“Tunggulah besok. Mungkin saja besok Natsya sudah masuk…” Aku menghembuskan nafas dengan berat.
Esoknya, aku kecewa. Sama seperti seminggu yang lalu dan hari-hari kemarin. Tiara berdusta. Nyatanya aku tak melihat Natsya hari itu. Aku benar-benar tak ingin membuang-buang waktu dengan perasaan kacau seperti ini. Sepulang ini, aku harus ke rumah Natsya. Aku akan cari tahu, apa yang sebenarnya terjadi.
Hari itu hujan, tapi aku tak ingin hujan menghalangi langkahku untuk bertemu dengan Natsya. Dengan baju basah kuyup. Aku sampai di depan rumah Natsya. Tampak kosong dan lengang. Kutekan bel rumah tak ada yang menjawab. Membuat aku kesal dan kecewa. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Natsya? Aku pulang dengan rasa kecewa yang dalam.
Dalam perjalanan, aku menemukan seikat krisan tergeletak di pinggir jalan. Membuat aku bertanya-tanya. “Krisan seperti ini hanya ada di rumah Natsya, karena krisan ungu ini adalah krisan kesayangan Natsya. Tapi, kenapa bisa ada disini ?”Aku menggumam sendiri. Pikiranku mulai kacau. Sesampainya di rumah, kuletakkan seikat krisan itu dalam vas kecil warna ungu. Warna faforit Natsya dan bunga kesayangannya. Ya…aku selalu teringat kata-katanya tentang krisan yang dia ungkapkan tempo hari padaku. Krisan yang mungil dani indah. Yang suatu saat nanti, akan layu. Layu bersamaan dengan hidupku.
Aku sendiri masih bingung dengan ucapannya padaku saat itu. Kata-kata itu sederhana, tapi selalu terngiang di telingaku. Aku harus mulai belajar, bahwa 7 menit terakhir di taman adalah pertemuanku yang terakhir dengannya. Sampai sekarang. Aku tak pernah melihat Natsya lagi. Entah apa yang terjadi dengannya.
Hari itu ,aku duduk di teras depan dengan teh hangat dan camilan seadanya sambil membaca komic Usagino Mimi, ini pasti asyik.
“Permisi…” Aku terkejut melihat petugas pengantar barang datang menghampiriku.
“Ada yang bisa saya Bantu ?” Tawarku. Lelaki paruh baya itu memperlihatkan namecard padaku. Dan di namecard itu ada namaku.
“Itu saya. Ada apa ya? Saya tidak pernah memesan apa-apa kan ?” Aku mulai bingung. Sebelumnya aku tak pernah membeli apapun, kenapa ada pengantar barang ?
“Saya hanya mempunyai kewajiban memberikan ini pada mas. Saya permisi. Terimakasih…” Lelaki itu pergi tanpa penjelasan apapun. Bodohnya aku, kenapa aku tidak bertanya siapa pengirim paket itu ? Tanpa basa basi, aku membuka bungkusan itu. Sebuah buku agenda warna ungu. “Tanpa nama?” Aku mengernyitkan dahi. Aku membacanya satu persatu, dari halaman awal. Aku baru sadar bahwa agenda itu milik Natsya. Sekarang aku tahu apa yang terjadi dengan Natsya.
Sore itu, aku mengajak Tiara untuk menemui Natsya. Menemuinya di psikiater. Sesampainya disana, aku melihat Natsya merenung sendiri dengan tatapan hampa dan tanpa gairah hidup. Ternyata, selama ini dia menyimpan luka lama yang tak pernah sembuh. Luka yang disimpannya sendiri, rasa trauma satu tahun silam di sebuah apartemen yang mengharuskannya melihat semua kronologis kematian orangtuanya. Aku tak sanggup melihatnya seperti itu. Natsya sudah tak ingat apapun tentang hidupnya. Lalu bagaimana denganku ? Aku segera meninggalkan tempat itu. Aku tak ingin lebih terluka melihat Natsya seperti itu.
Kuletakkan krisan di atas pusara nisan berukir “Natsya”. Disanalah Natsya menemukan keabadiannya, tempat terindah yang selama ini diinginkannya, mungkin. Aku hanya meratap, memandang jauh ke depan. Aku tak pernah membayangkan Natsya akan meninggalkanku secepat ini, tanpa penjelasan apa-apa. Kenapa dia harus mencabut nyawanya sendiri, padahal aku ingin sekali melihat senyumnya untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Senyum yang tak pernah aku lihat selama ini, tak pernah aku abadikan walaupun sekali.
Perlahan, airmataku mulai mebasahi. Jatuh setitik-setitik. Kuusap airmata yang terlanjur jatuh.
“Aku lelaki. Dan aku tak bisa membiarkan airmataku jatuh di depan Natsya. Itu tak akan terjadi lagi.” Aku beranjak dari tempat itu. Berjalan terarah dengan sesuatu yang pasti. Disini, tak ada yang bsia menghapusnya. Menghapus tentang Natsya. “Selamat tinggal Natsya. Aku pasrahkan semuanya untukmu, disini…” Sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Suara adzan mengalun merdu mengiringi langkah kakiku meninggalkan pemakaman di sore itu.
Mahkota krisan bertebaran di ujung jalan, menebar wangi pada setiap orang. Dunia mulai berputar, redup, kemudian gelap. Disitu tak ada cahaya. Hanya pekat yang tergenggam. Tak bisa terlepas walau dengan waktu. Biar sendiri, bahagia itu tetap untukmu, Rino…
Kututup lembar terakhir agenda milik Natsya. Ada sesuatu yang tak pernah bisa kuungkapkan selama ini. Perjalanan ini sudah berakhir, aku akan pergi menatap sesuatu yang akan terjadi di kehidupanku kelak, tanpa Natsya.







