10 Menit yang Lalu (About Friendship)
“Maafin aku ,Mel. Aku tahu aku salah. Dan aku menyesal telah melakukan itu kepadamu…”
“Kata maaf itu sudah tidak ada gunanya lagi! Gak akan pernah bisa merubah keadaan. Aku benar-benar kecewa. Tinggalin aku sendiri dan jangan pernah lagi muncul dihadapanku!” Pertengkaran dengan Mentari tadi siang masih terekam jelas sampai sekarang.membuat dadaku makin terasa sesak. Mata yang semula kering mulai basah oleh airmata.
“Mel…” Buru-buru kuusap airmataku saat mendengar suara Lingga, kakakku satu-satunya, melihatku berdiri di depan jendela. Aku berbalik dan menghampirinya di ambang pintu.
“Mel, hari ini Mentari tidak kemari?”
“Mentari tidak akan pernah kesini lagi, kak…” Aku melihat ekspresi wajah kakakku yang penuh tanya. “Ya, karena Mentari sangat sibuk dengan kegiatan sekolah. Dia kan ketua OSIS, kak .” Aku mencoba menawarkan senyum semanis mungkin di depan Lingga. Meski itu rasanya sulit sekali. Maaf Lingga, aku harus berbohong, karena aku tak bisa melihatmu bersedih juga. Karena aku tahu, semua yang kau alami ini sudah membuatmu hancur. Batinku berbicara sendiri. Pikiranku menerawang jauh. Ada bayangan Mentari disana. Aku tak pernah bisa membayangkan, setega itukah Mentari kepadaku? Hingga dia juga harus melukai Lingga.Kejadian itu sudah 3 minggu berlalu,namun meninggalkan luka yang cukup dalam bagiku dan bagi Lingga juga. saat Lingga menjadi korban dari tabrak lari. Dan yang membuatku begitu hancur adalah saat aku harus menerima kenyataan bahwa sahabatku sendiri, Mentari yang melakukan semua itu. Dan karena dia juga, Lingga harus duduk di kursi roda dalam waktu yang sangat lama. Lingga adalah calon dokter. Dan gelar sarjana cumlaudenya itu sudah tak berarti apa-apa.
“Kau kenapa,Mel? Kau menangis?” Aku segera mengusap airmataku. Aku merubah posisiku, menghadap ke arah Lingga.
“Andai saja kaki Melodi bisa ditukar dengan kaki kakak, Melodi akan berikan itu.” Lingga menatapku lekat-lekat, dengan hiasan senyuman di bibirnya. Lingga meraih bahuku dan memelukku. Kubalas pelukan Lingga. Airmataku makin deras dalam dekapannya. Lingga, satu-satunya yang kupunya selama ini di hidupku. Setelah ayah dan ibu pergi, aku sekuat tenaga menjaga Lingga. Aku tak ingin dia terluka lagi.
Kebiasaanku untuk bangun pagi dan kemudian menyiapkan sarapan untuk Lingga. Kulihat keluar jendela. Hari tampak cerah. Kuayunkan kaki menuju gerbang masa depan.Sesampai di muka sekolah, aku melihat Mentari berlari ke arahku. Segera kupercepat langkah kakiku, namun tetap saja Mentari mengejar.
“Mel, Melodi…tunggu !!” Aku mencoba untuk pergi, namun cengkraman tangan Mentari memaksaku untuk tinggal bersamanya di tempat itu. “Melodi, apa kamu belum bisa memaafkanku? Aku mohon maafin aku…”
“Seperti apapun kamu mengiba kepadaku, setelah apa yang telah kau lakukan Tari, sampai menangis darahpun aku tidak pernah memaafkan seorang penghianat.!” Bentakku padanya. Aku mengibaskan tanganku dnegan kasar hingga tubuh Mentari terdorong dan terjatuh. Aku segera melangkah pergi, tanpa menghiraukan Mentari yang terus memanggil namaku. Tanpa terasa pula, airmataku mulai menggenang di pelupuk mata.Aku segera berlari dan menghapus airmata itu. Airmata penyesalan.
****
Pagi ini aku bangun kesiangan. Mungkin karena tidurku semalam terlalu nyenyak. Dengan langkah gontai dan mata setengah tertutup aku berjalan ke arah kamar mandi. Dengan malas aku mengguyur tubuhku dengan air. Sejenak kepenatan sedikit berkurang. Dari celah jendela, sinar matahari menelusup, mencoba mengintip. Di baris sinarnya ada bayangan Mentari dan diriku disana. Dan aku kembali hanyut dalam kekecewaanku. Aku segera bergegegas memasang arlojiku, dan menuju ke ruang makan. Mencomot sedikit roti selai yang tersedia di atas meja. Dengan mulut penuh, aku berlari keluar menemui Angga-teman sekelasku-yang sudah stand by dari tadi. Motornya melaju dengan cepat. Melintasi beberapa lorong-lorong kecil di sebuah gang sempit. Kompleks tuna wisma dan sebuah taman yang lebar. Hijau ,rimbun penuh dengan pepohonan. Disanalah dulu, aku dan Mentari menjalani waktu bersama. Ada sedikit yang mengganggu pikiranku. Untung saja gerbang sekolah masih terbuka lebar. Syukurlah. Kami bersama menuju kelas, tertawa bersenda gurau. Tak sadar banyak mata memperhatikan kami saat itu.
“Mel…” Seketika senyumku hilang melihat Mentari tiba-tiba ada di hadapan kami berdua. “Kenapa kamu tidak angkat telponku semalam?? Sebegitu bencinya kamu ke aku,Mel?” Aku terkejut. Semalam? Ohh…mungkinkah Tari menelponku saat aku tertidur?
“Penting aku jawab telpon kamu ?” Aku segera pergi meninggalkan Tari dengan kesedihannya. Aku tahu, Mentari sangat tersakiti dengan ucapanku. Begitupun aku, yang lebih sakit menerima kenyataan. Aku berhenti di lorong sekolah. Kutahan tangisku dengan sebelah tanganku.
“Mel…” Aku masih tak menggubris Angga memanggilku. Dan baru tersadar, Ya Tuhan…Aku segera melepas tangan Angga dari genggaman tanganku. Angga menatapku lekat, membuatku tak berani untuk membalas tatapannya.
“Mel, apa kamu belum bisa buka hati kamu untuk Tari? Dia ngelakuin apapun untuk meminta maaf kamu .” Aku terdiam. Diam karena tak ingin mendustai perasaanku sendiri. Aku tak pernah ingin melukai siapapun. Bahkan Tari sekalipun. Tetapi dia juga yang sudah merubahku menjadi seperti ini. Melodi yang keras, dan Melodi yang sulit memaafkan orang lain. Aku makin terisak. Kurasakan sebuah sentuhan hangat di pipiku, membuatku merasa lebih tenang.Aku mengangkat wajahku dan mulai berani menatap Angga. Tangannya menghapus airmata yang turun lagi.
Esoknya aku segera bergegas ke sekolah setelah membuat sarapan untuk Lingga. Baru saja keluar pintu, Angga sudah berdiri disitu, bersiul-siul kecil. Tanpa berkata-kata Angga menarik tanganku dan motor Angga sudah melaju dengan kencang. Sesampainya di sekolah aku berjalan sendiri tanpa Angga. Karena hari ini dia ada jadwal piket di ruang ekspresi
“Mel…” Aku terkejut saat Tari lagi-lagi muncul dihadapanku dengan tiba-tiba. Mentari menyodorkan sebuah kotak berwarna biru yang ukurannya agak besar padaku.
“Apa maksud kamu dengan semua ini ? Kamu fikir aku akan luluh dengan pemberian kamu…” Aku melemparnya, hingga isinya berserakan.
“Mel, kamu apa-apan sih ?” Tari segera memungut kotak itu.
“Kamu yang apa-apaan ! Dasar gak tahu diri !!” Aku meninggalkannya dengan perasaan kacau. Aku terus berlari meninggalkan Mentari dan bertemu Angga di depan koridor. Angga menarik tanganku membawaku berlari dan berhenti di depan pintu ruang ekspresi.
“Kamu buka pintunya!” Aku masih terdiam. Takut-takut Angga mengerjaiku lagi seperti waktu itu. Aku menatapnya dengan serius. “Aku gak bakalan ngerjain kamu! Udah buka aja!” Selangkah demi selangkah aku menuju ke arah pintu dan memutar perlahan engsenl pintu.
“Happy Birthday, Melodi…” Aku terkejut. Siapa yang ulang tahun? Ohhh…ya ampun, bahkan aku lupa hari ini adalah hari ulangtahunku. Satu persatu teman-teman sekelasku mengucapkan selamat. Vernina memelukku. Tapi kenapa aku merasa ada yang kurang? Kemudian aku melihatnya, Mentari, melintas ruangan itu. Menatapku sejenak. Begitu pula aku. Ulang tahun pertama tanpa Mentari adalah ulang tahun terburuk yang aku dapatkan seumur hidupku. Airmata itu kembali menggenang. Namun untung saja aku mampu membendungnya.Sepulang sekolah Angga mengajakku ke suatu tempat. Dia bilang ada sesuatu yang ingin dia berikan padaku.
“Ga, sebenarnya yang nyiapin surprise party itu tadi??? Kamu kan juga gak tahu, Ga. Satu-satunya orang yang tahu hari ultahku itu….” Aku menghentikan kalimatku, Mentari. Itu jawaban dari pertanyaanku sendiri. Nama itu kembali muncul dan mengusikku. “Siapa ,Ga???”
“Tanpa kujawab, kau pasti sudah tahu jawabannya. Kita sudah sampai…” Aku segera turun dari motornya. Angga membawaku ke café Dungon Dugon. Sebelumnya Angga sudah membooking salah satu meja untuk kami berdua. Meja paling depan di dekat seorang pianis yang memainkan pianonya. Pikiranku kembali meracau. Ini adalah tempat faforitku. Aku sendiri juga tidak tahu mengapa café ini menjadi tempat faforitku.Mungkin karena namanya yang langka dan juga di tempat ini pulalah, aku dan Mentari selalu menghabiskan waktu bersama.Dulu, kami selalu datang ke tempat ini sepulang sekolah. Dan kursi yang aku tempati sekarang adalah tempat biasa aku duduk bersama Mentari. Meja paling dekat dengan piano. Mentari sangat suka mendengarkan melodi klasik. Aku melihat bayanganku sendiri bersama Mentari. Berjalan sambil bercanda melewati kursi-kursi lainnya dan memilih sebuah kursi paling depan. Tiap kali kemari, pasti Mentari selalu memesan Ice cream vanilla. Dia bilang, sejak kecil almarhum mamanya sering membelikannya ice cream rasa vanilla saat dia sedang merasa sedih atau sedang bosan. Perlahan bayangan itu memudar. Berubah wujud menjadi Angga. Hanya terlihat samar bayangan Mentari yang tersenyum padaku di masa lalu.
“Mel…” Angga membuyarkan lamunanku.
“Iya, kenapa?
“Kamu yang kenapa. Aku dicuekin. Ya udah, lupain aja. Kamu tunggu sebentar ya!” Pinta Angga padaku. Dia meninggalkanku sendiri. Kulihat Angga naik ke atas podium dan duduk di depan piano.
“Lagu ini untuk seseorang !” Dia melirik ke arahku.Aku tersipu dibuuatnya saat Angga menunjukku dan semua mata tertuju padaku, memandangku dengan tatapan berbeda-beda.Aneh rasanya melihat Angga seperti itu. Aku terkejut saat Angga mulai menekan tuts-tuts piano dan aku bisa menebak apa lagu yang dimainkannya. Itu Gift of a Friendnya Demi Lovato. Dan itu adalah lagu faforitku. Faforit Mentari juga. Lagu itu dimainkan dengan nada yang sedemikian rupa, berbeda dengan aslinya.
The beauty you all when you open your heart,
And believe in… The gift of a friend…
Kalimat terakhir lagu itu kembali membawaku dalam bayangan bersama mentari. Hanya sepintas. Aku melihat Angga tersenyum ke arahku , membuatku menjadi salah tingkah. Hingga dia mengantarkanku pulang, aku tak bisa berkata apa-apa.
“Aku pulang ya.” Aku mengangguk.” Oh ya, itu tadi hadiah untuk kamu…” Setelah mengucapkan itu Angga segera memacu kencang motornya. Makasih, Ga. Gumamku dalam hati.
Malam ini terasa begitu gelap. Maksudku, mungkin karena sedang mendung di luar. Ku pandangi satu-satu foto-foto yang terpajang di ruang keluarga. Foto ibu, foto ayah, dan fotoku juga Lingga. Kuusap lembut wajah ibu dan ayah dalam foto itu. Membuatku sulit tidur malam ini. Entah mengapa malam ini aku begitu galau. Kulihat jam dinding di ruang tengah masih pukul 21.00. Ting…Tonggg…Siapa bertamu malam-malam seperti ini ? Aku segera menuju pintu dan membukanya.
“Mau apa lagi? Masih berani datang kemari?”
“Mel, aku minta maaf sama kamu.Aku mohon maafin aku, aku mohon,Mel…”
“Aku gak mau denger kata maaf itu dari kamu!”
“Aku tahu ,mel. Tapi aku ingin persahabatan kita seperti dulu lagi.”
“Sahabat? Apa kamu sahabatku? Yang aku tahu kamu adalah penghianat. Dan kamu tahu, semua sudah terlambat !”
“Aku tahu ,Mel semua ini udah terlambat. Tapi ijinkan aku bicara sama kamu, beri aku kesempatan, 5 menit aja.!” Aku hanya terdiam ,memalingkan pandanganku darinya.
“Andai saja ada yang lebih mulia dari kata maaf, pasti akan aku ucapin ke kamu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu. Aku menyesal. Aku tulus meminta maaf kamu. Aku sadar, aku sangat menyayangi kamu. Aku gak bisa kehilangan kamu,Mel. Aku gak mau kehilangan sahabat seperti kamu. Ini memang terlambat, untuk membuka hati kamu dan memberiku kesempatan sekali lagi. Aku sadar, apa yang sudah kulakukan sangat menyakitimu. Dan jujur aku juga.” Aku menatap matanya. Kulihat matanya memerah menahan airmata yang akhirnya jatuh.“Aku sudah berusaha melakukan apapun, segala hal, segala cara untuk membuka hati kamu. Tapi sayangnya , hati itu sudah tertutup rapat. Aku berjanji tidak akan mengusikmu dan ini permintaan maaf terakhirku. Bagaimanapun juga kamu tetap sahabatku, apapun yang terjadi. Ya udah, makasih kamu masih mau beri aku kesempatan. Sudah 5 menit,kan? Aku permisi ,Melodi.”Mentari tersenyum padaku sebelum akhirnya dia benar-benar pergi dari hadapanku. Perlahan airmataku kembali mengalir. Menatap kepergian Mentari. Ada bias kebahagiaan dalam senyuman itu, senyuman yang begitu dalam. Aku masih berdiri disitu, memandang kepergian Mentari yang mulai dimakan gelap. Bayangannya hilang diantara temaramnya lampu jalanan. Aku segera menutup pintu melempar badanku ke atas ranjang. Mencoba memejamkan mata namun pikiranku selalu terusik oleh kalimat Tari. Namun perlahan, angin malam mulai menggodaku. Membuat mataku terkatup, dan aku mulai terpejam.Melintasi awang-awang nirwana. Sepintas, semu bayangan Mentari muncul di sela tidurku.
Semalam begitu cepat rasanya. Aku beranjak dari tempat tidurku, membasuh muka dan menuju teras depan dan berdiri di ambang pintu. Kupandangi tempat itu. Semalam baru saja aku bersama Mentari setelah sekian lama kami tidak pernah bersama dan sedekat seperti malam itu. Kalimatnya begitu lekat di kepalaku. Tiba-tiba Angga muncul tanpa motornya dan menarik tanganku. Dan membaawaku pergi. Kami berhenti di sebuah taman. Lagi-lagi, Angga membawaku ke tempat kenanganku bersama Tari. Kenangan yang paling banyak terjadi di taman ini.
“Mau apa kita kesini ?”
“Aku hanya ingin membawamu kesini aja….” Dari kejauhan aku melihat bayangan Mentari dan diriku .Kali ini tampak jelas sekali.Berkali-kali aku menepisnya, tapi bayangan itu semakin jelas dan tak mau enyah dari pandanganku.
“Pagi ini indah ya,Mel. Lihat matahari akan terbit.” Mentari menunjuk warna jingga yang mulai muncul di sela-sela perbukitan yang tampak indah. “Kamu tahu,Mel. Aku ingin sekali menjadi mentari...”
“Kenapa harus menjadi matahari?”
“Aku ingin sekali menjadi matahari. Karena aku ingin selalu menyapa kamu di pagi hari dan menemani sepanjang hari kamu,Mel. Karena Mentari untuk Melodi…” Itulah kata-kata terakhir Mentari yang masih aku ingat betul. Dan sekarang hanyalah ada kata maaf darinya.
“Kamu kenapa,Mel?” Aku terdiam. “Aku tahu, tempat ini adalah tempat biasa kamu dan Mentari selalu bersama…” Kutatap sepasang mata itu di depanku, mencoba mencari makna dari kata-katanya. Pandangan kami saling beradu. Aku terbuai dengan tatapan itu, namun sesaat wajah Angga berubah menjadi wajah Mentari. Yang kulihat adalah senyuman Mentari. Airmataku menetes. Kupalingkan pandanganku darinya. Angga menyeka airmataku. Aku hanya terdiam tanpa berkata-kata. Dibawanya diriku dalam pelukannya.
“Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan,Mel. Tapi biarlah aku selalu menjaga kamu, menghapus airmata kamu. Airmata kamu terlalu berharga untukku ,Melodi…” Angga melepas pelukannya dan menggenggam tanganku. Aku menatap matanya. Menangkap sebuah sinar di matanya. Itu sinar Mentari. Aku tersenyum. Mentari selalu ada dimanapun aku berada. Angga tersenyum menatapku dan megngandengku meninggalkan taman itu. Aku menoleh ke belakang, bayangan itu muncul lagi. Kulihat lambaian tangan Mentari ke arahku. Dan perlahan memudar dengan pasti.
Sejak pertemuan terakhirku dengan Mentari, aku tak pernah melihatnya di sekolah.Dia benar-benar menepati janjinya untuk pergi dari kehidupanku. Jujur, rasanya aku tak rela melepas Mentari begitu saja. Aku merasakan kerinduan pada sahabaku Mentari. Belum terlambat aku menemuinya untuk mengutarakan semua ini. Segera kuraih tasku, dan secarik kertas jatuh ke lantai. Aku memungutnya. Kertas itu adalah pesan dari Tari bahwa dia ingin bertemu denganku sore ini. Aku segera berlari mencari Mentari. Tetapi Tari tak kunjung kutemukan, ke setiap sudut ruangan, tiap sudut sekolah, tiap koridor. Bahkan di kelasnya. Mentari tidak ada.
Aku terlalu asyik mengotak atik twitter dan tanpa sadar tertidur pulas di depan televisi. Saat aku terbangun, aku melirik jam dinding. Aku melompat dari sofa meraih jaketku dan berlari menuju taman.Sesampainya disana ,tak kutemukan siapapun. Hanya ada sebuah kotak berwarna biru tergeletak di bangku taman yang sempat kubuang waktu Mentari memberikannya padaku. Aku duduk di bangku taman dan membuka bingkisan itu. Kugeledah semua isi kotak itu. Di dalamnya ada berlembar-lembar fotoku bersama Mentari. Ada beberapa surat yang isinya tentang kisahku dan Mentari. Aku tak mampu menahan airmataku. Aku mulai terisak disitu sambil menatap satu-satu foto-foto kami. Dia benar-benar menjaga dengan baik bukti persahabatan yang pernah terjalin. Sebuah surat kecil terselip diantara foto-foto kenangan itu.
Happy Birthday Melodi. Ini yang ingin aku katakan saat aku menyerahkan bingkisan ini padamu namun kau menolaknya. Semua di dalam kotak ini adalah hidupku dan aku selalu menjaganya.Ini kado persahabatan dariku semoga kamu menyukainya. Aku tahu kamu pasti datang tapi waktuku tak banyak,Mel. Saat matahari tenggelam dan saat itu pulalah Mentari pergi. Dan lihatlah esok mentari akan hadir lagi bersamamu. Karena Mentari untuk Melodi…
Airmata itu makin deras. Beribu penyesalan mulai menyergap. 10 menit yang lalu harusnya aku tidak terlambat. 10 menit yang lalu harusnya aku disini, dan 10 menit yang lalu harusnya aku masih bersama Mentari disini. 10 menit berlalu Mentari tak hanya menjauh dari kehidupanku, tapi dia juga sudah meninggalkan kehidupanku selamanya.
“Aku tahu aku terlambat mengatakan ini padamu Tari. Aku juga menyayangimu. Aku bisa merasakan kamu ada disini Mentari, maafkan keegoisanku…” Aku menggumam sendiri. Memeluk erat bingkisan-bingkisan itu.
Perlahan mentari mulai turun menghilang bersamaan dengan hilangnya Mentari. Samar-samar terlihat bayangan Mentari di garis sinar yang mulai redup. Dan bayangan yang pernah ada di tempat itu kembali hadir lagi. Dibalik matahari yang kian tenggelam, bayangan Mentari terlihat diantara warna senja yang semakin menghilang bersama sebuah senyuman dan lambaian tangannya. Aku memandangnya dengan senyum yang berderai airmata. Dan kemudian bayangannya menghilang tak berbekas sama sekali. Ku tinggalkan kenanganku yang mulai memudar dengan pasti. Lirih kudengar sayup-sayup canda dan tawa dua anak manusia yang kini harus terpisah jauh karena keadaan.
“Maafin aku ,Mel. Aku tahu aku salah. Dan aku menyesal telah melakukan itu kepadamu…”
“Kata maaf itu sudah tidak ada gunanya lagi! Gak akan pernah bisa merubah keadaan. Aku benar-benar kecewa. Tinggalin aku sendiri dan jangan pernah lagi muncul dihadapanku!” Pertengkaran dengan Mentari tadi siang masih terekam jelas sampai sekarang.membuat dadaku makin terasa sesak. Mata yang semula kering mulai basah oleh airmata.
“Mel…” Buru-buru kuusap airmataku saat mendengar suara Lingga, kakakku satu-satunya, melihatku berdiri di depan jendela. Aku berbalik dan menghampirinya di ambang pintu.
“Mel, hari ini Mentari tidak kemari?”
“Mentari tidak akan pernah kesini lagi, kak…” Aku melihat ekspresi wajah kakakku yang penuh tanya. “Ya, karena Mentari sangat sibuk dengan kegiatan sekolah. Dia kan ketua OSIS, kak .” Aku mencoba menawarkan senyum semanis mungkin di depan Lingga. Meski itu rasanya sulit sekali. Maaf Lingga, aku harus berbohong, karena aku tak bisa melihatmu bersedih juga. Karena aku tahu, semua yang kau alami ini sudah membuatmu hancur. Batinku berbicara sendiri. Pikiranku menerawang jauh. Ada bayangan Mentari disana. Aku tak pernah bisa membayangkan, setega itukah Mentari kepadaku? Hingga dia juga harus melukai Lingga.Kejadian itu sudah 3 minggu berlalu,namun meninggalkan luka yang cukup dalam bagiku dan bagi Lingga juga. saat Lingga menjadi korban dari tabrak lari. Dan yang membuatku begitu hancur adalah saat aku harus menerima kenyataan bahwa sahabatku sendiri, Mentari yang melakukan semua itu. Dan karena dia juga, Lingga harus duduk di kursi roda dalam waktu yang sangat lama. Lingga adalah calon dokter. Dan gelar sarjana cumlaudenya itu sudah tak berarti apa-apa.
“Kau kenapa,Mel? Kau menangis?” Aku segera mengusap airmataku. Aku merubah posisiku, menghadap ke arah Lingga.
“Andai saja kaki Melodi bisa ditukar dengan kaki kakak, Melodi akan berikan itu.” Lingga menatapku lekat-lekat, dengan hiasan senyuman di bibirnya. Lingga meraih bahuku dan memelukku. Kubalas pelukan Lingga. Airmataku makin deras dalam dekapannya. Lingga, satu-satunya yang kupunya selama ini di hidupku. Setelah ayah dan ibu pergi, aku sekuat tenaga menjaga Lingga. Aku tak ingin dia terluka lagi.
Kebiasaanku untuk bangun pagi dan kemudian menyiapkan sarapan untuk Lingga. Kulihat keluar jendela. Hari tampak cerah. Kuayunkan kaki menuju gerbang masa depan.Sesampai di muka sekolah, aku melihat Mentari berlari ke arahku. Segera kupercepat langkah kakiku, namun tetap saja Mentari mengejar.
“Mel, Melodi…tunggu !!” Aku mencoba untuk pergi, namun cengkraman tangan Mentari memaksaku untuk tinggal bersamanya di tempat itu. “Melodi, apa kamu belum bisa memaafkanku? Aku mohon maafin aku…”
“Seperti apapun kamu mengiba kepadaku, setelah apa yang telah kau lakukan Tari, sampai menangis darahpun aku tidak pernah memaafkan seorang penghianat.!” Bentakku padanya. Aku mengibaskan tanganku dnegan kasar hingga tubuh Mentari terdorong dan terjatuh. Aku segera melangkah pergi, tanpa menghiraukan Mentari yang terus memanggil namaku. Tanpa terasa pula, airmataku mulai menggenang di pelupuk mata.Aku segera berlari dan menghapus airmata itu. Airmata penyesalan.
****
Pagi ini aku bangun kesiangan. Mungkin karena tidurku semalam terlalu nyenyak. Dengan langkah gontai dan mata setengah tertutup aku berjalan ke arah kamar mandi. Dengan malas aku mengguyur tubuhku dengan air. Sejenak kepenatan sedikit berkurang. Dari celah jendela, sinar matahari menelusup, mencoba mengintip. Di baris sinarnya ada bayangan Mentari dan diriku disana. Dan aku kembali hanyut dalam kekecewaanku. Aku segera bergegegas memasang arlojiku, dan menuju ke ruang makan. Mencomot sedikit roti selai yang tersedia di atas meja. Dengan mulut penuh, aku berlari keluar menemui Angga-teman sekelasku-yang sudah stand by dari tadi. Motornya melaju dengan cepat. Melintasi beberapa lorong-lorong kecil di sebuah gang sempit. Kompleks tuna wisma dan sebuah taman yang lebar. Hijau ,rimbun penuh dengan pepohonan. Disanalah dulu, aku dan Mentari menjalani waktu bersama. Ada sedikit yang mengganggu pikiranku. Untung saja gerbang sekolah masih terbuka lebar. Syukurlah. Kami bersama menuju kelas, tertawa bersenda gurau. Tak sadar banyak mata memperhatikan kami saat itu.
“Mel…” Seketika senyumku hilang melihat Mentari tiba-tiba ada di hadapan kami berdua. “Kenapa kamu tidak angkat telponku semalam?? Sebegitu bencinya kamu ke aku,Mel?” Aku terkejut. Semalam? Ohh…mungkinkah Tari menelponku saat aku tertidur?
“Penting aku jawab telpon kamu ?” Aku segera pergi meninggalkan Tari dengan kesedihannya. Aku tahu, Mentari sangat tersakiti dengan ucapanku. Begitupun aku, yang lebih sakit menerima kenyataan. Aku berhenti di lorong sekolah. Kutahan tangisku dengan sebelah tanganku.
“Mel…” Aku masih tak menggubris Angga memanggilku. Dan baru tersadar, Ya Tuhan…Aku segera melepas tangan Angga dari genggaman tanganku. Angga menatapku lekat, membuatku tak berani untuk membalas tatapannya.
“Mel, apa kamu belum bisa buka hati kamu untuk Tari? Dia ngelakuin apapun untuk meminta maaf kamu .” Aku terdiam. Diam karena tak ingin mendustai perasaanku sendiri. Aku tak pernah ingin melukai siapapun. Bahkan Tari sekalipun. Tetapi dia juga yang sudah merubahku menjadi seperti ini. Melodi yang keras, dan Melodi yang sulit memaafkan orang lain. Aku makin terisak. Kurasakan sebuah sentuhan hangat di pipiku, membuatku merasa lebih tenang.Aku mengangkat wajahku dan mulai berani menatap Angga. Tangannya menghapus airmata yang turun lagi.
Esoknya aku segera bergegas ke sekolah setelah membuat sarapan untuk Lingga. Baru saja keluar pintu, Angga sudah berdiri disitu, bersiul-siul kecil. Tanpa berkata-kata Angga menarik tanganku dan motor Angga sudah melaju dengan kencang. Sesampainya di sekolah aku berjalan sendiri tanpa Angga. Karena hari ini dia ada jadwal piket di ruang ekspresi
“Mel…” Aku terkejut saat Tari lagi-lagi muncul dihadapanku dengan tiba-tiba. Mentari menyodorkan sebuah kotak berwarna biru yang ukurannya agak besar padaku.
“Apa maksud kamu dengan semua ini ? Kamu fikir aku akan luluh dengan pemberian kamu…” Aku melemparnya, hingga isinya berserakan.
“Mel, kamu apa-apan sih ?” Tari segera memungut kotak itu.
“Kamu yang apa-apaan ! Dasar gak tahu diri !!” Aku meninggalkannya dengan perasaan kacau. Aku terus berlari meninggalkan Mentari dan bertemu Angga di depan koridor. Angga menarik tanganku membawaku berlari dan berhenti di depan pintu ruang ekspresi.
“Kamu buka pintunya!” Aku masih terdiam. Takut-takut Angga mengerjaiku lagi seperti waktu itu. Aku menatapnya dengan serius. “Aku gak bakalan ngerjain kamu! Udah buka aja!” Selangkah demi selangkah aku menuju ke arah pintu dan memutar perlahan engsenl pintu.
“Happy Birthday, Melodi…” Aku terkejut. Siapa yang ulang tahun? Ohhh…ya ampun, bahkan aku lupa hari ini adalah hari ulangtahunku. Satu persatu teman-teman sekelasku mengucapkan selamat. Vernina memelukku. Tapi kenapa aku merasa ada yang kurang? Kemudian aku melihatnya, Mentari, melintas ruangan itu. Menatapku sejenak. Begitu pula aku. Ulang tahun pertama tanpa Mentari adalah ulang tahun terburuk yang aku dapatkan seumur hidupku. Airmata itu kembali menggenang. Namun untung saja aku mampu membendungnya.Sepulang sekolah Angga mengajakku ke suatu tempat. Dia bilang ada sesuatu yang ingin dia berikan padaku.
“Ga, sebenarnya yang nyiapin surprise party itu tadi??? Kamu kan juga gak tahu, Ga. Satu-satunya orang yang tahu hari ultahku itu….” Aku menghentikan kalimatku, Mentari. Itu jawaban dari pertanyaanku sendiri. Nama itu kembali muncul dan mengusikku. “Siapa ,Ga???”
“Tanpa kujawab, kau pasti sudah tahu jawabannya. Kita sudah sampai…” Aku segera turun dari motornya. Angga membawaku ke café Dungon Dugon. Sebelumnya Angga sudah membooking salah satu meja untuk kami berdua. Meja paling depan di dekat seorang pianis yang memainkan pianonya. Pikiranku kembali meracau. Ini adalah tempat faforitku. Aku sendiri juga tidak tahu mengapa café ini menjadi tempat faforitku.Mungkin karena namanya yang langka dan juga di tempat ini pulalah, aku dan Mentari selalu menghabiskan waktu bersama.Dulu, kami selalu datang ke tempat ini sepulang sekolah. Dan kursi yang aku tempati sekarang adalah tempat biasa aku duduk bersama Mentari. Meja paling dekat dengan piano. Mentari sangat suka mendengarkan melodi klasik. Aku melihat bayanganku sendiri bersama Mentari. Berjalan sambil bercanda melewati kursi-kursi lainnya dan memilih sebuah kursi paling depan. Tiap kali kemari, pasti Mentari selalu memesan Ice cream vanilla. Dia bilang, sejak kecil almarhum mamanya sering membelikannya ice cream rasa vanilla saat dia sedang merasa sedih atau sedang bosan. Perlahan bayangan itu memudar. Berubah wujud menjadi Angga. Hanya terlihat samar bayangan Mentari yang tersenyum padaku di masa lalu.
“Mel…” Angga membuyarkan lamunanku.
“Iya, kenapa?
“Kamu yang kenapa. Aku dicuekin. Ya udah, lupain aja. Kamu tunggu sebentar ya!” Pinta Angga padaku. Dia meninggalkanku sendiri. Kulihat Angga naik ke atas podium dan duduk di depan piano.
“Lagu ini untuk seseorang !” Dia melirik ke arahku.Aku tersipu dibuuatnya saat Angga menunjukku dan semua mata tertuju padaku, memandangku dengan tatapan berbeda-beda.Aneh rasanya melihat Angga seperti itu. Aku terkejut saat Angga mulai menekan tuts-tuts piano dan aku bisa menebak apa lagu yang dimainkannya. Itu Gift of a Friendnya Demi Lovato. Dan itu adalah lagu faforitku. Faforit Mentari juga. Lagu itu dimainkan dengan nada yang sedemikian rupa, berbeda dengan aslinya.
The beauty you all when you open your heart,
And believe in… The gift of a friend…
Kalimat terakhir lagu itu kembali membawaku dalam bayangan bersama mentari. Hanya sepintas. Aku melihat Angga tersenyum ke arahku , membuatku menjadi salah tingkah. Hingga dia mengantarkanku pulang, aku tak bisa berkata apa-apa.
“Aku pulang ya.” Aku mengangguk.” Oh ya, itu tadi hadiah untuk kamu…” Setelah mengucapkan itu Angga segera memacu kencang motornya. Makasih, Ga. Gumamku dalam hati.
Malam ini terasa begitu gelap. Maksudku, mungkin karena sedang mendung di luar. Ku pandangi satu-satu foto-foto yang terpajang di ruang keluarga. Foto ibu, foto ayah, dan fotoku juga Lingga. Kuusap lembut wajah ibu dan ayah dalam foto itu. Membuatku sulit tidur malam ini. Entah mengapa malam ini aku begitu galau. Kulihat jam dinding di ruang tengah masih pukul 21.00. Ting…Tonggg…Siapa bertamu malam-malam seperti ini ? Aku segera menuju pintu dan membukanya.
“Mau apa lagi? Masih berani datang kemari?”
“Mel, aku minta maaf sama kamu.Aku mohon maafin aku, aku mohon,Mel…”
“Aku gak mau denger kata maaf itu dari kamu!”
“Aku tahu ,mel. Tapi aku ingin persahabatan kita seperti dulu lagi.”
“Sahabat? Apa kamu sahabatku? Yang aku tahu kamu adalah penghianat. Dan kamu tahu, semua sudah terlambat !”
“Aku tahu ,Mel semua ini udah terlambat. Tapi ijinkan aku bicara sama kamu, beri aku kesempatan, 5 menit aja.!” Aku hanya terdiam ,memalingkan pandanganku darinya.
“Andai saja ada yang lebih mulia dari kata maaf, pasti akan aku ucapin ke kamu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu. Aku menyesal. Aku tulus meminta maaf kamu. Aku sadar, aku sangat menyayangi kamu. Aku gak bisa kehilangan kamu,Mel. Aku gak mau kehilangan sahabat seperti kamu. Ini memang terlambat, untuk membuka hati kamu dan memberiku kesempatan sekali lagi. Aku sadar, apa yang sudah kulakukan sangat menyakitimu. Dan jujur aku juga.” Aku menatap matanya. Kulihat matanya memerah menahan airmata yang akhirnya jatuh.“Aku sudah berusaha melakukan apapun, segala hal, segala cara untuk membuka hati kamu. Tapi sayangnya , hati itu sudah tertutup rapat. Aku berjanji tidak akan mengusikmu dan ini permintaan maaf terakhirku. Bagaimanapun juga kamu tetap sahabatku, apapun yang terjadi. Ya udah, makasih kamu masih mau beri aku kesempatan. Sudah 5 menit,kan? Aku permisi ,Melodi.”Mentari tersenyum padaku sebelum akhirnya dia benar-benar pergi dari hadapanku. Perlahan airmataku kembali mengalir. Menatap kepergian Mentari. Ada bias kebahagiaan dalam senyuman itu, senyuman yang begitu dalam. Aku masih berdiri disitu, memandang kepergian Mentari yang mulai dimakan gelap. Bayangannya hilang diantara temaramnya lampu jalanan. Aku segera menutup pintu melempar badanku ke atas ranjang. Mencoba memejamkan mata namun pikiranku selalu terusik oleh kalimat Tari. Namun perlahan, angin malam mulai menggodaku. Membuat mataku terkatup, dan aku mulai terpejam.Melintasi awang-awang nirwana. Sepintas, semu bayangan Mentari muncul di sela tidurku.
Semalam begitu cepat rasanya. Aku beranjak dari tempat tidurku, membasuh muka dan menuju teras depan dan berdiri di ambang pintu. Kupandangi tempat itu. Semalam baru saja aku bersama Mentari setelah sekian lama kami tidak pernah bersama dan sedekat seperti malam itu. Kalimatnya begitu lekat di kepalaku. Tiba-tiba Angga muncul tanpa motornya dan menarik tanganku. Dan membaawaku pergi. Kami berhenti di sebuah taman. Lagi-lagi, Angga membawaku ke tempat kenanganku bersama Tari. Kenangan yang paling banyak terjadi di taman ini.
“Mau apa kita kesini ?”
“Aku hanya ingin membawamu kesini aja….” Dari kejauhan aku melihat bayangan Mentari dan diriku .Kali ini tampak jelas sekali.Berkali-kali aku menepisnya, tapi bayangan itu semakin jelas dan tak mau enyah dari pandanganku.
“Pagi ini indah ya,Mel. Lihat matahari akan terbit.” Mentari menunjuk warna jingga yang mulai muncul di sela-sela perbukitan yang tampak indah. “Kamu tahu,Mel. Aku ingin sekali menjadi mentari...”
“Kenapa harus menjadi matahari?”
“Aku ingin sekali menjadi matahari. Karena aku ingin selalu menyapa kamu di pagi hari dan menemani sepanjang hari kamu,Mel. Karena Mentari untuk Melodi…” Itulah kata-kata terakhir Mentari yang masih aku ingat betul. Dan sekarang hanyalah ada kata maaf darinya.
“Kamu kenapa,Mel?” Aku terdiam. “Aku tahu, tempat ini adalah tempat biasa kamu dan Mentari selalu bersama…” Kutatap sepasang mata itu di depanku, mencoba mencari makna dari kata-katanya. Pandangan kami saling beradu. Aku terbuai dengan tatapan itu, namun sesaat wajah Angga berubah menjadi wajah Mentari. Yang kulihat adalah senyuman Mentari. Airmataku menetes. Kupalingkan pandanganku darinya. Angga menyeka airmataku. Aku hanya terdiam tanpa berkata-kata. Dibawanya diriku dalam pelukannya.
“Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan,Mel. Tapi biarlah aku selalu menjaga kamu, menghapus airmata kamu. Airmata kamu terlalu berharga untukku ,Melodi…” Angga melepas pelukannya dan menggenggam tanganku. Aku menatap matanya. Menangkap sebuah sinar di matanya. Itu sinar Mentari. Aku tersenyum. Mentari selalu ada dimanapun aku berada. Angga tersenyum menatapku dan megngandengku meninggalkan taman itu. Aku menoleh ke belakang, bayangan itu muncul lagi. Kulihat lambaian tangan Mentari ke arahku. Dan perlahan memudar dengan pasti.
Sejak pertemuan terakhirku dengan Mentari, aku tak pernah melihatnya di sekolah.Dia benar-benar menepati janjinya untuk pergi dari kehidupanku. Jujur, rasanya aku tak rela melepas Mentari begitu saja. Aku merasakan kerinduan pada sahabaku Mentari. Belum terlambat aku menemuinya untuk mengutarakan semua ini. Segera kuraih tasku, dan secarik kertas jatuh ke lantai. Aku memungutnya. Kertas itu adalah pesan dari Tari bahwa dia ingin bertemu denganku sore ini. Aku segera berlari mencari Mentari. Tetapi Tari tak kunjung kutemukan, ke setiap sudut ruangan, tiap sudut sekolah, tiap koridor. Bahkan di kelasnya. Mentari tidak ada.
Aku terlalu asyik mengotak atik twitter dan tanpa sadar tertidur pulas di depan televisi. Saat aku terbangun, aku melirik jam dinding. Aku melompat dari sofa meraih jaketku dan berlari menuju taman.Sesampainya disana ,tak kutemukan siapapun. Hanya ada sebuah kotak berwarna biru tergeletak di bangku taman yang sempat kubuang waktu Mentari memberikannya padaku. Aku duduk di bangku taman dan membuka bingkisan itu. Kugeledah semua isi kotak itu. Di dalamnya ada berlembar-lembar fotoku bersama Mentari. Ada beberapa surat yang isinya tentang kisahku dan Mentari. Aku tak mampu menahan airmataku. Aku mulai terisak disitu sambil menatap satu-satu foto-foto kami. Dia benar-benar menjaga dengan baik bukti persahabatan yang pernah terjalin. Sebuah surat kecil terselip diantara foto-foto kenangan itu.
Happy Birthday Melodi. Ini yang ingin aku katakan saat aku menyerahkan bingkisan ini padamu namun kau menolaknya. Semua di dalam kotak ini adalah hidupku dan aku selalu menjaganya.Ini kado persahabatan dariku semoga kamu menyukainya. Aku tahu kamu pasti datang tapi waktuku tak banyak,Mel. Saat matahari tenggelam dan saat itu pulalah Mentari pergi. Dan lihatlah esok mentari akan hadir lagi bersamamu. Karena Mentari untuk Melodi…
Airmata itu makin deras. Beribu penyesalan mulai menyergap. 10 menit yang lalu harusnya aku tidak terlambat. 10 menit yang lalu harusnya aku disini, dan 10 menit yang lalu harusnya aku masih bersama Mentari disini. 10 menit berlalu Mentari tak hanya menjauh dari kehidupanku, tapi dia juga sudah meninggalkan kehidupanku selamanya.
“Aku tahu aku terlambat mengatakan ini padamu Tari. Aku juga menyayangimu. Aku bisa merasakan kamu ada disini Mentari, maafkan keegoisanku…” Aku menggumam sendiri. Memeluk erat bingkisan-bingkisan itu.
Perlahan mentari mulai turun menghilang bersamaan dengan hilangnya Mentari. Samar-samar terlihat bayangan Mentari di garis sinar yang mulai redup. Dan bayangan yang pernah ada di tempat itu kembali hadir lagi. Dibalik matahari yang kian tenggelam, bayangan Mentari terlihat diantara warna senja yang semakin menghilang bersama sebuah senyuman dan lambaian tangannya. Aku memandangnya dengan senyum yang berderai airmata. Dan kemudian bayangannya menghilang tak berbekas sama sekali. Ku tinggalkan kenanganku yang mulai memudar dengan pasti. Lirih kudengar sayup-sayup canda dan tawa dua anak manusia yang kini harus terpisah jauh karena keadaan.












