Halo, (Yang Katanya) Sahabat..
Sepertinya sudah lama tidak menyapamu seperti ini. Atau sekedar basa-basi mempertanyakan segala hal, tentang urusan kampus, asmara dan hal-hal remeh temeh, maybe. Waktu kita kecil, mungkin itu hal yang mudah untuk saling bertanya, menyapa tanpa terpaksa, atau sekedar berkata “tidak apa-apa, kita bisa melewatinya bersama”. Tidak hanya aku, juga kamu, tapi semua orang. Yang pernah menganggap sebuah persahabatan itu berharga. Itu waktu kita masih kecil ya. Beda dengan sekarang. Kita sudah dewasa (tepatnya mencoba menjadi dewasa), dan kata itu hanya sekedar tiupan serdadu angin yang mematahkan ranting-ranting kering waktu musim kemarau tiba.
(Yang Katanya) Sahabat,
Mungkin aku salah satu orang yang dunianya masih diliputi dengan kenangan masa kecil dan beberapa hadiah ulang tahun dari kertas bekas bungkus obat nyamuk yang konyol masih tersimpan rapi (dan aku yakin, aku satu-satunya yang masih mempertahankan itu). Tidak lagi kamu. Sudah terlalu sibuk dengan dunia barumu, dengan teman-teman yang sesuai dengan seleramu, atau menunjukkan kebahagiaanmu bersama mereka lewat akun instagrammu. Jujur. Iri. Tapi, buat apa? Kata ‘sahabat’ yang dulu pernah kita koarkan sama-sama Cuma ada di dunia masa kecil, berbeda setelah kita menjadi dewasa. Manusia yang kita temui maupun yang kita pernah kenal sebelumnya hanyalah sebuah ‘koneksi’. Tidak lebih.
(yang Katanya) Sahabat,
Mungkin ada beberapa hal yang membuat hidupmu berat, namun tak pernah sekalipun terusik di benakmu untuk menghubungiku bukan? Tapi tidak denganku. Naïf, sih. Tapi kenyatannya begitu. Aku bukan seorang yang tidak bisa mendengar, maupun melihat. Tetapi semuanya sunyi. Siapapun yang lewat, seperti sebuah diorama yang otomatis bergerak diluar kendali. Kamu tahu? Akhir-akhir ini hidup terlalu berat dijalani, biarpun semua orang berbaik hati, tapi kemudian aku mencampakkannya. Tidak punya nurani. Benar! Tetapi aku juga tidak ingin munafik, bahwa sesekali aku ingin bersandar, pada siapapun. Tapi aku tak punya keberanian (pada siapapun). Terkadang juga ingin menangis sejadi-jadinya, tapi naluriku menahannya. Kamu tahu? Sejak saat itu aku bukan lagi gadis cengeng yang bodoh. Setidaknya aku menguatkan diriku sendiri.
(Yang Katanya) Sahabat,
Kamu mungkin masih menyebutku dengan ‘kata’ itu. Tapi aku tidak lagi. Aku sudah tidak menyebutkan kata itu untuk beberapa tahun belakangan. Apakah orang yang saling mengenal kemudian saling bertukar cerita atau sering menghabiskan waktu bersama dan menjadi akrab bisa disebut ‘sahabat’? Tidak sesederhana itu. Bagaimanapun, akan sulit dijelaskan, terutama buat kamu yang mungkin memiliki kapasitas otak zero % (tentu aku hanya bercanda). Aku selalu berpikir bahwa aku tidak akan pernah membutuhkanmu lagi sekarang. Munafik. Memang. Bagaimanapun saat ini mempercayai seseorang bukanlah hal yang mudah. Karena di zaman seperti ini, orang-orang yang datang hanya memanfaatkan. Mereka yang datang, Cuma jadi beban. Yang peduli, Cuma sekedar ucapan. Bukan ketulusan. Begitulah caraku memahami dunia yang sudah tidak bisa dikendalikan
(Yang Katanya) Sahabat,
Beberapa teman bercerita bahwa ketika mereka sedih ada orang disamping mereka yang menguatkan. Atau ketika sedang bosan ada yang bisa mereka ajak gila-gilaan. Atau ketika sedang lapar dan tidak ingin makan sendirian, ada orang yang bersedia datang dalam keadaan apapun. Atau bahkan ketika dunia mereka runtuh, akan ada orang yang selalu menjadi penenang. Membandingkan denganku? Gak ada gunanya. Itu hanya cara konyol untuk tidak mensyukuri apa yang telah didapatkan saat ini bukan? Tapi, ini kemunafikan.
(yang Katanya) Sahabat,
Sebenarnya aku ada permintaan.. Bisa tidak kamu kabulkan? hmm, kue ulang tahun di hari ulang tahunku. Itu saja. hanya tumpukan biscuit dengan beberapa lilin pun mungkin akan begitu menyenangkan. Setidaknya selama 20tahun lebih hidupku, aku pernah merasakan ‘sekali’ bagaimana rasanya ada yang memberikan kue dan ikut merayakannya bersamaku…
Aku tidak akan meminta maaf kepadamu, atau memaafkanmu. Karena aku bukan orang baik seperti itu. Cuma orang bodoh yang ingin kue ulang tahun dari (yang katanya) Sahabat. Cuma itu. Setelahnya kau melupakanku (lagi), tidak apa-apa. Aku akan sepenuhnya mengerti.
Dari :
Yang sudah tidak menganggapmu Sahabat.







