Desember hampir usai. Sementara beberapa kendaraan mulai terlihat memadati jalanan. Pun membuat bising. Sementara beberapa orang yang masih sibuk menata resolusi, membenarkan mimpi-mimpi. Adapun juga yang hanya membiarkan taun berganti begitu saja, tanpa resolusi, tanpa impian yang digantung rapi. keadaan yang tidak jauh berbeda dengan sebelum sebelumnya, ritual tahun baru yang tetap membosankan. Sungguh, sebenarnya ini adalah prolog yang sangat kacau. atau bahkan mungkin tak ada kaitannya, cuma coretan yang carut marut.
Apakah tepat waktu kalau harus mengeluh sekarang? Padahal harusnya ini adalah waktu untuk bersenang- senang. beberapa waktu lalu aku mengenal sosok baru, yang mampu membuat penasaran setengah mati tapi tentu saja harus disembunyikan rapat-rapat. sosok yang mulanya hanya sebatas 'ah iya itu dia' menjadi 'ya ampun itu dia!' (baca dengan perasaan menggebu).
Tapi sepertinya terlalu cepat, terlalu buru-buru menyimpulkan, terlalu terlena dan terlalu terbuai. Mungkin saja hanya sebatas.... Ya hanya sebatas (apapun) itu terserahlah. Bagaimanapun ada ketakutan. Takut itu cuma impian gabuk, cuman gelas kosong atau cuman psitol yang gak ada pelurunya. Cuma aku sendiri yang terlalu perasa. sebuah kata yang menakutkan, 'cuma'.
Kalo bisa menyalahkan 'kamu sih terlalu cuek, kamu terlalu gengsi, atau kamu yang gak perasa' sudah, itu sudah cukup menggambarkan bagaimana sosok itu. Menyebalkan namun menenangkan. meskipun tiap bertemu cuma bungkam, cuma diam, cuma curi-curi pandang, atau cuma sama sama kasih isyarat tapi sama sama gak pernah peka. (nah, kan CUMA lagi). Bisa jadi aku yang menolak peka, atau sosok itupun, atau kita berduapun yang mencoba tidak menyadari hal itu masing-masing.
Senyum itu, gak tau apakah cuma aku atau memang untuk siapapun. Perlakuan itu, gak tau apa cuma aku atau juga untuk siapapun. aku masih mencoba menyelami, menyusun rangkaian-rangkaian tentang sosok itu, sampai saat ini pun masih seperti sebuah pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban. Kalaupun diminta menunggu, sanggup kok!. asal gak pake isyarat-isyarat yang akupun gak pernah faham. Gak pernah ngerti bagaimana sebenernya, kalau tidak dengan bahasa lisan yang langsung masuk ke telinga. Maaf, mungkin aku terlalu bodoh atau tidak sensitiv dengan hal-hal semacam itu.
Resolusi?? Ada. Pasti. Jangan ditanya, itu rahasia. Yang pasti ada 'sosok' yang terselip di dalamnya. Bukan sekedar doa, tapi usaha juga ikhtiar. Meskipun gak tahu harus memulai darimana. Biarkan saja seperti ini dulu, abu-abu. 'nanti ada waktunya, bukan sekarang' begitulah setidaknya Tuhan menjawab doa. semua obrolan yang lebih sering disertai candaan, atau beberapa cerita kecil, belum pernah kemudian menjadi obrolan yang serius sekalipun mencoba, kamu menghindar. Yang pasti sudah terbangun keyakinan disini, kamu gak bisa liat, pun gak akan pernah tahu. Caraku membisu, sesekali mengabaikanmu, menyapa lebih dulu atau diam karena takut ketahuan sedang malu, simpulkan lah sendiri.
Kalaupun suatu saat kamu baca ini (gak tau sih ya bakal dibaca atau enggak) entahlah saat itu kamu akan di sini atau malah sudah tidak lagi. Atau malah mewujudkan 'cuma - cuma ' yang tadi. (mudah mudahan bukan sekedar cuma). Seketika desember yang berlalu dengan antek-antek musim hujannya, beberapa mendung yang mulai bergeser, atau ombak yang sedikit lebih tenang, tapi yakin, disini tidak. Misalkan berarak kembali, tetap bergembiralah. Setidaknya desember dan hujan cukup membangun hati yang tangguh selama beberapa taun terakhir.
Saat ini, sosok itu masih kutunggu suaranya, bicaranya, bukan sesuatu yang hanya berupa 'clue' atau 'code'. Plisss aku bukan ahli matematika atau IT yang bisa memecahkan 'code' dengan mudah. Kayak kode html yang selalu remidi dan tidak pernah berhasil melewati angka 5 . OhGod!! Jadii ,bicaralah.. Aku harus bagaimana, beritahu. Jangan malu, jangan gengsi. Sekali sekali buanglah. Abaikan. Kemudian pungut kembali setelah mengatakannya.
Sudahlah, tidak perlu menuntut yang macam-macam (menghadap cermin) . Tidur. Pejamkanlah. Beberapa hari terakhir bahkan mimpi penuh sesak dengan rindu. Sosok itu terus bermunculan tanpa henti. Tapi apa daya mengatakannya pun ragu. Ahh lagii lagi, hanya mampu berspekulasi. Itulah manusia. Cuma suka mikir lewat perspektifnya sendiri.
Di Penghujung tahun 2016







