Follow Us Now


Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kabut dan Udara

Perkenalkan. Untuk sekarang ini Aku adalah kabut.
Seperti asap tebal, putih nan pekat tapi tidak berbau.
Aku selalu hadir di cuaca yang dingin, terutama ketika pagi.
Bagi manusia aku hanya pengganggu.
Pengganggu yang menghalangi jarak pandang mereka.
Pengganggu, karena aku bagaikan lambang mistis yang membawa malapetaka.

Menjelang siang matahari mengusikku, kemudian kali ini aku menjadi udara basah yang tak terlihat. Tidak ada yang tau, tapi aku mampu melihat sekeliling.
Mereka tidak merasakan kehadiranku, tapi aku ada.
Aku disini, tapi tak ada yang bisa mendengar.
 Mereka menggapaiku, tapi mereka tak merasakannya.

Aku, kabut dan udara sudah sejak awal diciptakan dalam kesunyian menanggapi dunia yang bising hanya dengan deru lirih angin yang bergesekan dengan dahan.
Aku, kabut dan udara yang sudah menjadi saksi bisu kebohongan yang memuakkan. Ucapan yang hanya sekedar lisan. Mereka, makhluk-makhluk tak berperikemanusiaan.
Aku. Kabut dan udara, yang sering kali memberontak pada Tuhan supaya dapat menjelma menjadi makhluk terkutuk seperti mereka, sesekali menjadi hina seperti manusia tidak apa-apa. Daripada terus menerus terkurung dalam kesunyian.
Menjadi makhluk tak berperikemanusiaan pun tidak apa-apa, karena aku pun terlahir untuk tidak memiliki jiwa seperti mereka.
Aku. Kabut dan udara, pembenci hal-hal yang bersifat fana, padahal aku sendiri pendusta. Pembenci segala hal kebohongan tentang manusia, padahal aku sendiri pendosa.

'?'

Entahlah, tapi hari hari terlalu berat.
Sudah mulai bosan bertemu dengan teman, atau mengobrol seperti biasa atau sekedar menghabiskan waktu dengan beberapa buku dan secangkir matcha (kesukaanku).
Suasana kos yang mulai menyebalkan dengan anak-anak yang banyak tidak tahu aturan
 Hangout atau sekedar menghapus penat di tempat karaoke serasa sudah basi.
Bahkan untuk sekedar menyentuh tuts yang biasanya selalu berhasil menghilangkan stress, seolah tidak menggairahkan.
Mampir ke toko buku dan berhasrat  untuk membeli beberapa, hari belakangan perasaan itu tidak ada. Hal hal yang kusuka semua mulai terasa membosankan.
Waktu terlalu lambat ketika hanya mengurung diri dalam kamar, tetapi itu lebih baik daripada harus bertemu dengan manusia lain.
Teman-teman bahkan mulai memuakkan.
Banyak sekali yang kubenci.
Dan aku pun tidak peduli atau bahkan keberatan jika banyak sekali yang membenciku.
Aku sudah sering bertanya pada diri sendiri apa yang terjadi dan apa yang salah, apa yang membuatku tertekan.
Tapi tetap tidak ada jawaban.
Hanya daja rasanya berat dan melelahkan.

J E D A

Tepat pukul 02:12 WIB.

Kebiasaan lama muncul. Terbangun dan susah tidur.
Penat, sudah pasti. Sebab pikiran-pikiran tak sehat datang lagi tanpa nyali.
Kali ini sekedar pikiran kosong, tapi terasa penuh.
Ada beberapa angan tergantung, tak jelas. Ada beberapa kerinduan, terus saja membekas.

Messaging alert
Dari batas alter ego.
Kemunculannya tidak tepat.
Sudah larut.
Tidak ada yang peduli. Aku-pun.

Ngeri. Dengan diri sendiri.
Bukan aku. Bukan pula yang menulis sampah-sampah disini.
Cuma salah satu kepribadian lain yang sedang bangun.
Tak ada maksud lain.
Hanya saja....
Hanya saja berusaha membangun Batas lebih tinggi
Pembatas yang mulanya hampir saja hancur,

Secangkir coklat panas pun 'sedang' tidak mempan
atau sunset di atas bukit sore tadi juga 'sedang' tidak sanggup menjadi pelipur
Harapan yang mulai gugur
Pikiran jernih yang mulai luntur
Dan Imajinasi indah yang pelan pelan terkubur.

Kabur.
Gambaran manusia yang kufur..

Aku.

Butuh jeda.
Sesekali supaya dapat tertawa bahagia
Atau senyum tanpa paksa
Dan menangis secara sukarela

Aku.

Butuh Jeda.
Sesekali menjadi peran utama
Bukan menjadi orang ketiga, kelima, dan seterusnya
Dan diantara manusia-manusia yang sedang mencinta

Aku.
Benar-benar butuh jeda.
Jeda dan jeda. 

Secuil Pikiran Busuk!

Sambil dengerin melodi pembuka, Reminiscent-nya Yiruma entah pikiran busuk apa yang tiba-tiba melintas dan tidak bisa ditahan. Yakin deh, ini bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Seorang anak yang ditelantarkan. Oleh seorang lelaki yang biasa disebutnya 'bapak/ayah/papa' atau apalah itu terserah. Intinya mereka sama saja sampah yang berserakan dijalanan? (ups! Bukan maksudnya berkata kasar, tapi mengertilah setidaknya perasaan kacau balau seperti itu).

Tapi seperti itulah kenyataannya. Bahkan kisah itu tidak tau sejak kapan sudah dimulai, dan dia baru menyadarinya. Menggelikan. Pastinya!! Beberapa beban itu menyertai tempatnya tinggal kini yang seperti sebuah pengasingan. Sebenarnya lebih tepatnya pelarian. Karena muak dengan wajah lelaki yang tak pernah hadir dalam rencana masa depan, memutuskan pergi dan mencoba mencari pengalihan. Pada apapun yang menyenangkan (tentunya masih dalam batas aturan). 

Di dunianya kini, hidupnya juga dipenuhi pengabaian. Tidak lagi mudah percaya pada orang-orang yang ramah menyapanya di jalan. Atau sekedar teman lama yang basa basi memulai percakapan. Dia mengabaikannya. Itu bukan hal penting lagi bukan? Karena yang dia ketahui, dunianya hanya ada orang-orang yang ingin di dengar tapi tak ada yang mau mendengarnya. Semua orang mengabaikan segala tentangnya, cerita hidupnya, kesedihannya, kebahagiaannya, bahkan namanya. Tak ada yang ingin tahu tentangnya. Ketika ada seorang teman berkata : "ceritakanlah semuanya padaku, aku mungkin tidak akan bisa membantumu tapi setidaknya aku bisa mendengarnya" dan bila dia percaya, dia akan terluka, karena sebenarnya kata-kata itu hanya penenang. Tidak ada yang benar benar mau mendengarnya. Jadi, buat apa bercerita? itu bukan ketulusan.hanya beberapa bentuk pengabaian yang paling menyakitkan. baginya memasang keceriaan sepanjang hari bukanlah masalah. Dan bagi orang-orang di sekitarnya, mereka nyaman untuk bercerita kepadanya. Apapun. A good Listener. Ya seperti itulah. 

Sebenarnya dia menyukai hobinya mendengarkan orang-orang yang bercerita tentang hidupnya. Tapi lama kelamaan, dia menyadari bahwa dia hanya sebuah perantara. Perantara dengan orang lain. Seperti kurir penyampai pesan. Entah kepada siapapun. Bebannya makin berat, menjaga semua rahasia orang lain. sementara dirinya sendiri juga kesusahan dengan beban yang selama ini ditanggungnya. Tak ada yang tahu. Satupun. Siapapun. 

Katanya, akhir-akhir ini dia mudah stress. Pikirannya kacau, beberapa memori juga kabur. Terkadamg tertawa sendiri, bergumam sendiri, kemudian menangis sendiri, lalu setelahnya dia tertidur. Dia selalu ingat bagaimana ketika orang-oranh bahkan keluarganya yang selalu menyebut namanya dengan orang lain, membandingkannya dengan orang lain, dan merendahkannya sesuka hati. Dia masih ingat. Baginya itu tidak seberapa dibanding awal kisah dari pengabaiannya dimulai. 

Mungkin dia bersikeras tidak membutuhkan siapapun, karena baginya semua nya sama. tidak ada satupun yang mau mendengarkannya. Meskipun mulut sudah mulai terbuka, kemudian mengurungkannya. Dia tidak seleluasa itu untuk bercerita. Padahal dia sangat membutuhkannya. Katanya lagi, kepalanya sudah seperti ingin meledak, karena semenjak hidupnya dimulai dia tidak pernah mencurahkan isi hatinya. Pada siapapun. Beban yang ditanggungnya sendiri makin menumpuk, tapi dia masih bertahan. Dan harus. 

Bisa saja dia memang cuma bayangan, atau cuma kurir pengantar pesan, atau cuma perantara dari Tuhan. Tapi sungguh! Bercerita pada Tuhan saja tidak cukup. Dia juga ingin menunjukkannya atau sekedar menangis di pundak seseorang. Klasik sih emang. Tapi dia sangat membutuhkannya. Dengan begitu, setidaknya dia bisa bersyukur meskipun dia diabaikan banyak orang atau ketika kehadirannya tidak dianggap sama sekali. 

Baginya, dalam hidupnya sendiri dia bukanlah tokoh utama. Dia tetap menjadi pemeran pembantu, membantu mendengarkan semua keluh kesah orang-orang disekelilingnya. Meskipun sudah muak, dia tetap berpura-pura. Yang dia yakini, semua pasti baik-baik saja. Pasti. Bersabarlah sedikit lagi...

Ada Banyak (Sedikit) Waktu

Ada banyak waktu, yang dihabiskan dengan percuma. Seperti yang sedang terjadi, sekarang. Semua pekerjaan setidaknya harus selesai besok! Tapi, sepertinya beranjak dari kasur tercinta terlalu enggan. Dan lagi-lagi, waktu terbuang sia-sia. menyesal. Setelahnya. terulang lagi, pasti. Kemudian menyesal. Begitu terus siklusnya.

Ada banyak waktu, untuk memikirkan masa depan. Namun sepertinya bukan hal yang baik untuk mendahului Tuhan. kita mah cukup merencanakan saja, jangan berlebihan. Meskipun banyak waktu untuk membayangkan, jangan sekali-kali kalian lakukan. Karena apa yang kalian bayangkan sekarang, bisa jadi tidak akan pernah terealisasikan. Bukan menakut-nakutti, tapi percayalah, kalian tidak seharusnya menggunakan waktu untuk hal demikian. 

Ada banyak waktu, untuk mengenang. Kembali ke masa lalu (bukan seperti kalian harus melompati waktu), hanya cukup menoleh saja. Ke belakang. Jangan cari apa yang tertinggal. Tapi, coba pikir baik-baik, apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki yang sudah terjadi. Menyesal? Harus. Tapi tidak harus selamanya. Ada caranya membuat diri bahagia. Tertawa. Seperti orang gila. Atau, berteriak di tepi pantai yang banyak pengunjungnya. Silahkan dicoba ! 

Ada banyak waktu, yang sering terlupa. terlewat begitu saja. yang diingat cuma yang baiknya saja, yang paitnya dibuang entah dimana. timpang. Iya. Hidup kalian (akupun). 

Ada banyak waktu, untuk mengulang kesempatan. Ingat! Seberapa banyak di kehidupan kesempatan yang sudah terlewat? Berkali-kali? Pasti. Kemudian datang kesempatan lagi, terlewat lagi, sesekali bisa diraih, tapi keseringan dilewati sih. kadang enggan, atau takut? Atau hanya tidak percaya diri? Butuh penguatan? Dari siapa? Orang lain? Ya kalau, ada. Kalau gak ada orang lain yang peduli?? Sudah , lebih baik berbicara dari hati ke hati lewat cermin. Setidaknya kalian akan menemukan sosok yang lebih peduli dari siapapun. 

Tapi.. 

Ada, Sedikit waktu.. 

Untuk mencari jati diri. Merefleksikan hidup sesuai kehendak hati. Tidak perlu mati. Cukup melarikan diri. Menghilang sebentar. Bertemu dengan manusia-manusia baru di belahan bumi yang lain. Percaya ? Apa impian seorang amatir ini? yaps! Menghilang. Sebentar. Dari hiruk pikuk dunia yang sudah ramai. Imigrasi di planet baru (terlalu mustahil). Bukan seperti itu. Menghilang yang diimpikan adalah, tidak bertemu dan menyapa orang-orang yang sama. Menjauh dari rutinitas yang berulang, atau sekedar chatting dengan orang-orang ambigu di dunia maya. Suatu saat, kalau aku menghilang. Jangan cari (lagian siapa juga yang mau cari). aku bukannya pergi, cuma lagi mengabdi sama diri sendiri. Gak akan lama, aku bakal balik lagi. Dan sekembalinya aku nanti, jangan terkejut! 

Surat Laknat buat (Yang Katanya) Sahabat

Halo, (Yang Katanya) Sahabat..
Sepertinya sudah lama tidak menyapamu seperti ini. Atau sekedar basa-basi mempertanyakan segala hal, tentang urusan kampus, asmara dan hal-hal remeh temeh, maybe. Waktu kita kecil, mungkin itu hal yang mudah untuk saling bertanya, menyapa tanpa terpaksa, atau sekedar berkata “tidak apa-apa, kita bisa melewatinya bersama”. Tidak hanya aku, juga kamu, tapi semua orang. Yang pernah menganggap sebuah persahabatan itu berharga. Itu waktu kita masih kecil ya. Beda dengan sekarang. Kita sudah dewasa (tepatnya mencoba menjadi dewasa), dan kata itu hanya sekedar tiupan serdadu angin yang mematahkan ranting-ranting kering waktu musim kemarau tiba.

(Yang Katanya) Sahabat,
Mungkin aku salah satu orang yang dunianya masih diliputi dengan kenangan masa kecil dan beberapa hadiah ulang tahun dari kertas bekas bungkus obat nyamuk yang konyol masih tersimpan rapi (dan aku yakin, aku satu-satunya yang masih mempertahankan itu). Tidak lagi kamu. Sudah terlalu sibuk dengan dunia barumu, dengan teman-teman yang sesuai dengan seleramu, atau menunjukkan kebahagiaanmu bersama mereka lewat akun instagrammu. Jujur. Iri. Tapi, buat apa? Kata ‘sahabat’ yang dulu pernah kita koarkan sama-sama Cuma ada di dunia masa kecil, berbeda setelah kita menjadi dewasa. Manusia yang kita temui maupun yang kita pernah kenal sebelumnya hanyalah sebuah ‘koneksi’. Tidak lebih.

 (yang Katanya) Sahabat, 
Mungkin ada beberapa hal yang membuat hidupmu berat, namun tak pernah sekalipun terusik di benakmu untuk menghubungiku bukan? Tapi tidak denganku. Naïf, sih. Tapi kenyatannya begitu. Aku bukan seorang yang tidak bisa mendengar, maupun melihat. Tetapi semuanya sunyi. Siapapun yang lewat, seperti sebuah diorama yang otomatis bergerak diluar kendali. Kamu tahu? Akhir-akhir ini hidup terlalu berat dijalani, biarpun semua orang berbaik hati, tapi kemudian aku mencampakkannya. Tidak punya nurani. Benar! Tetapi aku juga tidak ingin munafik, bahwa sesekali aku ingin bersandar, pada siapapun. Tapi aku tak punya keberanian (pada siapapun). Terkadang juga ingin menangis sejadi-jadinya, tapi naluriku menahannya. Kamu tahu? Sejak saat itu aku bukan lagi gadis cengeng yang bodoh. Setidaknya aku menguatkan diriku sendiri. 

(Yang Katanya) Sahabat, 
Kamu mungkin masih menyebutku dengan ‘kata’ itu. Tapi aku tidak lagi. Aku sudah tidak menyebutkan kata itu untuk beberapa tahun belakangan. Apakah orang yang saling mengenal kemudian saling bertukar cerita atau sering menghabiskan waktu bersama dan menjadi akrab bisa disebut ‘sahabat’? Tidak sesederhana itu. Bagaimanapun, akan sulit dijelaskan, terutama buat kamu yang mungkin memiliki kapasitas otak zero % (tentu aku hanya bercanda). Aku selalu berpikir bahwa aku tidak akan pernah membutuhkanmu lagi sekarang. Munafik. Memang. Bagaimanapun saat ini mempercayai seseorang bukanlah hal yang mudah. Karena di zaman seperti ini, orang-orang yang datang hanya memanfaatkan. Mereka yang datang, Cuma jadi beban. Yang peduli, Cuma sekedar ucapan. Bukan ketulusan. Begitulah caraku memahami dunia yang sudah tidak bisa dikendalikan 

(Yang Katanya) Sahabat, 
Beberapa teman bercerita bahwa ketika mereka sedih ada orang disamping mereka yang menguatkan. Atau ketika sedang bosan ada yang bisa mereka ajak gila-gilaan. Atau ketika sedang lapar dan tidak ingin makan sendirian, ada orang yang bersedia datang dalam keadaan apapun. Atau bahkan ketika dunia mereka runtuh, akan ada orang yang selalu menjadi penenang. Membandingkan denganku? Gak ada gunanya. Itu hanya cara konyol untuk tidak mensyukuri apa yang telah didapatkan saat ini bukan? Tapi, ini kemunafikan.

 (yang Katanya) Sahabat, 
Sebenarnya aku ada permintaan.. Bisa tidak kamu kabulkan? hmm, kue ulang tahun di hari ulang tahunku. Itu saja. hanya tumpukan biscuit dengan beberapa lilin pun mungkin akan begitu menyenangkan. Setidaknya selama 20tahun lebih hidupku, aku pernah merasakan ‘sekali’ bagaimana rasanya ada yang memberikan kue dan ikut merayakannya bersamaku… 

Aku tidak akan meminta maaf kepadamu, atau memaafkanmu. Karena aku bukan orang baik seperti itu. Cuma orang bodoh yang ingin kue ulang tahun dari (yang katanya) Sahabat. Cuma itu. Setelahnya kau melupakanku (lagi), tidak apa-apa. Aku akan sepenuhnya mengerti. 

Dari :
Yang sudah tidak menganggapmu Sahabat.

Desember Dan Antek-antek Musim Hujan

Desember hampir usai. Sementara beberapa kendaraan mulai terlihat memadati jalanan. Pun membuat bising. Sementara beberapa orang yang masih sibuk menata resolusi, membenarkan mimpi-mimpi. Adapun juga yang hanya membiarkan taun berganti begitu saja, tanpa resolusi, tanpa impian yang digantung rapi. keadaan yang tidak jauh berbeda dengan sebelum sebelumnya, ritual tahun baru yang tetap membosankan. Sungguh, sebenarnya ini adalah prolog yang sangat kacau. atau bahkan mungkin tak ada kaitannya, cuma coretan yang carut marut.

Apakah tepat waktu kalau harus mengeluh sekarang? Padahal harusnya ini adalah waktu untuk bersenang- senang. beberapa waktu lalu aku mengenal sosok baru, yang mampu membuat penasaran setengah mati tapi tentu saja harus disembunyikan rapat-rapat. sosok yang mulanya hanya sebatas 'ah iya itu dia' menjadi 'ya ampun itu dia!' (baca dengan perasaan menggebu).

Tapi sepertinya terlalu cepat, terlalu buru-buru menyimpulkan, terlalu terlena dan terlalu terbuai. Mungkin saja hanya sebatas.... Ya hanya sebatas (apapun) itu terserahlah. Bagaimanapun ada ketakutan. Takut itu cuma impian gabuk, cuman gelas kosong atau cuman psitol yang gak ada pelurunya. Cuma aku sendiri yang terlalu perasa. sebuah kata yang menakutkan, 'cuma'. 

Kalo bisa menyalahkan 'kamu sih terlalu cuek, kamu terlalu gengsi, atau kamu yang gak perasa' sudah, itu sudah cukup menggambarkan bagaimana sosok itu. Menyebalkan namun menenangkan. meskipun tiap bertemu cuma bungkam, cuma diam, cuma curi-curi pandang, atau cuma sama sama kasih isyarat tapi sama sama gak pernah peka. (nah, kan CUMA lagi). Bisa jadi aku yang menolak peka, atau sosok itupun, atau kita berduapun yang mencoba tidak menyadari hal itu masing-masing.

Senyum itu, gak tau apakah cuma aku atau memang untuk siapapun. Perlakuan itu, gak tau apa cuma aku atau juga untuk siapapun. aku masih mencoba menyelami, menyusun rangkaian-rangkaian tentang sosok itu, sampai saat ini pun masih seperti sebuah pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban. Kalaupun diminta menunggu, sanggup kok!. asal gak pake isyarat-isyarat yang akupun gak pernah faham. Gak pernah ngerti bagaimana sebenernya, kalau tidak dengan bahasa lisan yang langsung masuk ke telinga. Maaf, mungkin aku terlalu bodoh atau tidak sensitiv dengan hal-hal semacam itu. 

Resolusi?? Ada. Pasti. Jangan ditanya, itu rahasia. Yang pasti ada 'sosok' yang terselip di dalamnya. Bukan sekedar doa, tapi usaha juga ikhtiar. Meskipun gak tahu harus memulai darimana. Biarkan saja seperti ini dulu, abu-abu. 'nanti ada waktunya, bukan sekarang' begitulah setidaknya Tuhan menjawab doa. semua obrolan yang lebih sering disertai candaan, atau beberapa cerita kecil, belum pernah kemudian menjadi obrolan yang serius sekalipun mencoba, kamu menghindar. Yang pasti sudah terbangun keyakinan disini, kamu gak bisa liat, pun gak akan pernah tahu. Caraku membisu, sesekali mengabaikanmu, menyapa lebih dulu atau diam karena takut ketahuan sedang malu, simpulkan lah sendiri. 

Kalaupun suatu saat kamu baca ini (gak tau sih ya bakal dibaca atau enggak) entahlah saat itu kamu akan di sini atau malah sudah tidak lagi. Atau malah mewujudkan 'cuma - cuma ' yang tadi. (mudah mudahan bukan sekedar cuma). Seketika desember yang berlalu dengan antek-antek musim hujannya, beberapa mendung yang mulai bergeser, atau ombak yang sedikit lebih tenang, tapi yakin, disini tidak. Misalkan berarak kembali, tetap bergembiralah. Setidaknya desember dan hujan cukup membangun hati yang tangguh selama beberapa taun terakhir. 

Saat ini, sosok itu masih kutunggu suaranya, bicaranya, bukan sesuatu yang hanya berupa 'clue' atau 'code'. Plisss aku bukan ahli matematika atau IT yang bisa memecahkan 'code' dengan mudah. Kayak kode html yang selalu remidi dan tidak pernah berhasil melewati angka 5 . OhGod!! Jadii ,bicaralah.. Aku harus bagaimana, beritahu. Jangan malu, jangan gengsi. Sekali sekali buanglah. Abaikan. Kemudian pungut kembali setelah mengatakannya. 

Sudahlah, tidak perlu menuntut yang macam-macam (menghadap cermin) . Tidur. Pejamkanlah. Beberapa hari terakhir bahkan mimpi penuh sesak dengan rindu. Sosok itu terus bermunculan tanpa henti. Tapi apa daya mengatakannya pun ragu. Ahh lagii lagi, hanya mampu berspekulasi. Itulah manusia. Cuma suka mikir lewat perspektifnya sendiri. 


Di Penghujung tahun 2016

Viewers

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "