Follow Us Now


Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Desember Dan Antek-antek Musim Hujan

Desember hampir usai. Sementara beberapa kendaraan mulai terlihat memadati jalanan. Pun membuat bising. Sementara beberapa orang yang masih sibuk menata resolusi, membenarkan mimpi-mimpi. Adapun juga yang hanya membiarkan taun berganti begitu saja, tanpa resolusi, tanpa impian yang digantung rapi. keadaan yang tidak jauh berbeda dengan sebelum sebelumnya, ritual tahun baru yang tetap membosankan. Sungguh, sebenarnya ini adalah prolog yang sangat kacau. atau bahkan mungkin tak ada kaitannya, cuma coretan yang carut marut.

Apakah tepat waktu kalau harus mengeluh sekarang? Padahal harusnya ini adalah waktu untuk bersenang- senang. beberapa waktu lalu aku mengenal sosok baru, yang mampu membuat penasaran setengah mati tapi tentu saja harus disembunyikan rapat-rapat. sosok yang mulanya hanya sebatas 'ah iya itu dia' menjadi 'ya ampun itu dia!' (baca dengan perasaan menggebu).

Tapi sepertinya terlalu cepat, terlalu buru-buru menyimpulkan, terlalu terlena dan terlalu terbuai. Mungkin saja hanya sebatas.... Ya hanya sebatas (apapun) itu terserahlah. Bagaimanapun ada ketakutan. Takut itu cuma impian gabuk, cuman gelas kosong atau cuman psitol yang gak ada pelurunya. Cuma aku sendiri yang terlalu perasa. sebuah kata yang menakutkan, 'cuma'. 

Kalo bisa menyalahkan 'kamu sih terlalu cuek, kamu terlalu gengsi, atau kamu yang gak perasa' sudah, itu sudah cukup menggambarkan bagaimana sosok itu. Menyebalkan namun menenangkan. meskipun tiap bertemu cuma bungkam, cuma diam, cuma curi-curi pandang, atau cuma sama sama kasih isyarat tapi sama sama gak pernah peka. (nah, kan CUMA lagi). Bisa jadi aku yang menolak peka, atau sosok itupun, atau kita berduapun yang mencoba tidak menyadari hal itu masing-masing.

Senyum itu, gak tau apakah cuma aku atau memang untuk siapapun. Perlakuan itu, gak tau apa cuma aku atau juga untuk siapapun. aku masih mencoba menyelami, menyusun rangkaian-rangkaian tentang sosok itu, sampai saat ini pun masih seperti sebuah pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban. Kalaupun diminta menunggu, sanggup kok!. asal gak pake isyarat-isyarat yang akupun gak pernah faham. Gak pernah ngerti bagaimana sebenernya, kalau tidak dengan bahasa lisan yang langsung masuk ke telinga. Maaf, mungkin aku terlalu bodoh atau tidak sensitiv dengan hal-hal semacam itu. 

Resolusi?? Ada. Pasti. Jangan ditanya, itu rahasia. Yang pasti ada 'sosok' yang terselip di dalamnya. Bukan sekedar doa, tapi usaha juga ikhtiar. Meskipun gak tahu harus memulai darimana. Biarkan saja seperti ini dulu, abu-abu. 'nanti ada waktunya, bukan sekarang' begitulah setidaknya Tuhan menjawab doa. semua obrolan yang lebih sering disertai candaan, atau beberapa cerita kecil, belum pernah kemudian menjadi obrolan yang serius sekalipun mencoba, kamu menghindar. Yang pasti sudah terbangun keyakinan disini, kamu gak bisa liat, pun gak akan pernah tahu. Caraku membisu, sesekali mengabaikanmu, menyapa lebih dulu atau diam karena takut ketahuan sedang malu, simpulkan lah sendiri. 

Kalaupun suatu saat kamu baca ini (gak tau sih ya bakal dibaca atau enggak) entahlah saat itu kamu akan di sini atau malah sudah tidak lagi. Atau malah mewujudkan 'cuma - cuma ' yang tadi. (mudah mudahan bukan sekedar cuma). Seketika desember yang berlalu dengan antek-antek musim hujannya, beberapa mendung yang mulai bergeser, atau ombak yang sedikit lebih tenang, tapi yakin, disini tidak. Misalkan berarak kembali, tetap bergembiralah. Setidaknya desember dan hujan cukup membangun hati yang tangguh selama beberapa taun terakhir. 

Saat ini, sosok itu masih kutunggu suaranya, bicaranya, bukan sesuatu yang hanya berupa 'clue' atau 'code'. Plisss aku bukan ahli matematika atau IT yang bisa memecahkan 'code' dengan mudah. Kayak kode html yang selalu remidi dan tidak pernah berhasil melewati angka 5 . OhGod!! Jadii ,bicaralah.. Aku harus bagaimana, beritahu. Jangan malu, jangan gengsi. Sekali sekali buanglah. Abaikan. Kemudian pungut kembali setelah mengatakannya. 

Sudahlah, tidak perlu menuntut yang macam-macam (menghadap cermin) . Tidur. Pejamkanlah. Beberapa hari terakhir bahkan mimpi penuh sesak dengan rindu. Sosok itu terus bermunculan tanpa henti. Tapi apa daya mengatakannya pun ragu. Ahh lagii lagi, hanya mampu berspekulasi. Itulah manusia. Cuma suka mikir lewat perspektifnya sendiri. 


Di Penghujung tahun 2016

'29'

29 yang kelima.
sudah lagi berbeda
Kelak, tidak ada lagi hal serupa

sesekali rindu, maklumilah
Bagaimanapun kau tetap salah
beranjak sendiri tanpa tergoyah

seberapapun mengenang
'Hantu hujan' (katamu) takkan lagi datang
Sekedar salam lewat gerimis
Itu mustahil!
cuma siulan lirih angin yang usil
menelusup diam-diam ke dalam pupil..

Beberapa kali rindu (lagi)
Kemudian menjadi menggebu
Kemudian lagi, membelenggu.

Yang dirindu sudah tak menjelma apa-apa
pun hina yang terlalu tercela
pun aku yang bodoh masih di dunia
Pun hati yang sulit tergoda (inginmu)

29 tetap keramat
Seperti yang sudah sudah
Menyapa dengan lelah
tapi setidaknya hati sudah goyah
bukan lagi terpaku pada hal-hal yang payah

Sesekali ,beberapa kali, dan sering kali, rindu masih
Jangan sedih, baik baiklah

Jangan hadir di masa depan
Jangan pula mencoba merayu Tuhan
Cukup berhenti di duapuluh sembilan, Jangan datang di hari berikutnya..
Jangan!


Teruntuk beberapa makhluk terkutuk :
Tiffani, ezha dan garra

Bukan Bapak!

Desember masih tetap sama
Pun adalah hari ulang tahunmu, bulan lahirmu
Dan kau masih tetap sosok yang sama!
Tak pernah berubah
Tetap menebar kebencian yang tak bersudah

Musim hujan yang enggan mereda,
Sama halnya kesunyian yang berkesinambungan
Tuturmu sama sekali tak bermakna
Digubrispun percuma

Bait doa yang terselip hampir tak ada namamu
Titahmu? Semua semu.
Hidup yang harusnya berirama tak lagi berlagu
Jangan kira, bungamu sudah tumbuh
Bukan lagi benih kecil yang mudah layuh
Bukanya tidak tahu menahu
Hanya saja mencoba menutupi kebencian yang sulit dirayu
Bahkan dengan kata rindu
Hati tak lagi bergejolak
Yang tinggal hanya beberapa pikiran mblangsak

Tak ada yang patut dibanggakan
Hadirmu saja adalah tipuan
 Meyakinkanku, percuma.
Disini hanya keraguan..

Pinta bodohku dari ketidakbergunaanmu adalah :
Ketiadaanmu
Atau setidaknya kesengsaraanmu
Atau ketidakhadiranmu
dan atau-atau lainnya yang buruk bisa menimpamu

Aku terlalu durhaka
Menyematkan luka - luka dengan mesra
Tak perduli siapa, sebab tak pernah ada tempat untuk rasa

Dan seorang pembual besar mencoba menuliskan beberapa bait tanpa penyesalan
Pengharapan tanpa balasan
Dan penyiksaan tanpa ampunan
Tentang semua yang tidak bisa diceritakan
Dan tentang apa yang selalu didendamkan
Tidak ada lagi celah kerinduan
Yang ada hanya tumpukan-tumpukan cacian dan makian

Kalaupun itu ada rindu yang bergejolak, bukan untuk mu..
Bukan bapak!
Bukan untuk Bapak!


Tertanda,
Gadismu yang selalu durhaka

n o v e m b e r

Masih ingat? Minggu pertama di November lalu, sepertinya masih hangat untuk dibicarakan. November yang masih dipenuhi hujan-hujan yang menyebalkan. Meskipun kadang cuma gerimis, tetap saja bukan hal yang perlu dinikmati. 

Hari itu juga sama, seharian mendung di kota jogja. Menengok keluar jendela pun enggan. Aku lebih suka menghabiskan waktu di atas kasur dengan radio, dan selimut yang menutup seluruh badan. Pagi di jogja waktu itu masih tetap dingin jadi,,, it was God of lazy time. Dan rutinitas pagi selain itu  sama seperti makhluk-makhluk di muka bumi di era 2016 adalah 'check the phone' . Entah ada gak ada message, atau broadcast yang benar-benar mengganggu, itu sudah kepuasan cuma dengan sekedar ngintip.

Tapi pagi itu mataku menangkap sebuah nama di barisan obrolan BBM. Ada namamu di barisan kedua. pesan ke 4 yang kamu kirimkan 'lebih dulu' selama kita saling mengenal. Pesan darimu cukup untuk mengawali pagi yang masih dipenuhi gerimis dan awan pekat yang masih tak mau beranjak.

Beranjak sore, aku menungumu. Pukul 16.00, belum juga ada tanda tanda kehadiranmu. Sempat beberapa kali terpikir 'ah ya, mungkin lupa'. Tapi ternyata kamu datang satu jam kemudian, dengan jaket hitam dan jeans selutut yang biasa kamu kenakan. kalo boleh jujur, sebenernya pengen ketawa sih, kamu datang dengan keadaan kacau karena baru bangun tidur, terlihat dari matamu yang masih merah kamu juga meminta maaf karena ketiduran dan hampir lupa dengan janji yang sudah kamu buat. kamu hanya menyerahkan  kresek hitam dengan pesanananku, kemudian langsung berpamitan pergi dengan senyum, yang bahkan aku tak bisa mengartikan. Wajahmu yang seringkali tertunduk ketika kita saling berhadapan begitu juga sore itu.

Aku melihat punggungmu yang mulai menjauh, dan memastikan kamu benar-benar pergi meninggalkan aku yang mematung masih dengan kerinduan. Tak ada hak ku menahanmu tetap disini, meskipun sedikit kecewa karena hanya melihatmu beberapa detik. Kamu terlalu dingin, sangat malah. Kamu hanya akan bicara jika kamu menginginkannya. kamu bukan tipe orang yang dengan transparannya menunjukkan kepedulian, kamu adalah orang yang selalu berkutat dengan game catur di handphone ketika jenuh, atau membahas tentang bola. kamu juga bukan orang yang suka mengabadikan momen bahagiamu di media sosial. 'Aku hidup di dunia nyata, bukan dunia maya' begitu katamu. Kamu terlihat angkuh, arogan. kadang kamu juga terlihat kacau, tapi sebenarnya perfeksionis,idealis. kamu cukup bertanggung jawab dengan ucapanmu. Kamu begitu misterius, Dan cukup membuatku juga kacau. Tidak apa apa kalau kamu tidak mengerti sekarang. Mungkin suatu hari nanti? Atau hanya tetap akan abadi di tulisan ini saja? Entahlah...

Masih Tanda Tanya

Sepertinya akhir akhir ini hidup sudah mulai berat. Enggan melihat pagi, dan lebih mencintai malam dengan mata terpejam. Tiap kali membuka mata, ada bayangan bayangan asing muncul tiba tiba. Dan satu detik kemudian, airmata keluar entah karena apa. Atau beberapa kali mencaci maki Tuhan, atau beberapa kali juga melempar bantal ke sudut ruangan, lalu mendengus kesal dan mulai berteriak (lirih). Beberapa malam terakhir mimpi dalam tidur hanya samar, wajah-wajah yang di blur dan alur yang.....entahlah. 

Sesekali memandang cermin dengan wajah muram, lalu beberapa detik setelahnya berubah menjadi senyuman, lalu di detik berikutnya lagi menjadi wajah amarah. Aduh, terlalu banyak topeng, lalu mana yang harus aku pilih untuk menyembunyikan? Padahal rutinitasku masih panjang dan itu menjenuhkan. Hari-hari terlalu flat untuk dinikmati, tujuan yang semulanya ditata rapi di ujung langit, malah menggantung di udara. Tak ada yang istimewa selain kekacauan dan kepura-puraan. 

 Setiap jalan menuju kampus, rasanya seperti lorong yang terus menyempit. wajah-wajah yang mulai tidak familiar, dan terkutuk. oksigen-ogsigen disini sepertinya sudah tidak cukup lagi. Dan hal yang paling kubenci adalah, ketika bertemu seorang teman. karena itu artinya kita harus menyapa, basa basi dan sesuatu lainnya yang memuakkan. Manusia-manusia yang tiap hari kutemui, kulewati (mungkin), itu hanya sebuah rumput-rumput liar yang tak terurus. Ada dunia sendiri disini dimana manusia lain tidak bisa memasukinya. Butuh kode akses khusus dan tentu hanya aku yang tahu. dan jika menanyakannya padaku, tentu, aku tidak akan membiarkan siapapun tahu. karena memberikan kode akses sama saja memberikan kartu as di atas meja. 

Sedang di fase hidup bagian mana aku juga tidak mengerti. Tetapi disini mulai kacau, di dalam kehidupan orang lain aku hanya figuran. dan di kehidupanku sendiri aku juga figuran. Terhadap diriku sendiri aku terlalu banyak berbohong. Maaf. Tapi hanya ini yang bisa kulakukan.

Jadi buat yang tidak mengenalku, bersyukurlah. Saat ini kalian terhindar dari bahaya. Sebelum aku menemukan sosok apa yang ada dalam tubuhku yang akhir akhir ini begitu menyiksaku dengan kejam, jangan mengenalku, menyapaku, sekalipun melihatku. Jangan. Apapun itu, aku juga tidak ingin terlibat dengan kehidupan orang lain Kalaupun bisa aku juga tidak ingin terlibat dengan hidupku sendiri. 


Apa yang terjadi besok ,besoknya lagi dan besok besoknya lagi masih belum tahu. Masih tanda tanya. Semoga saja masih bisa meletakkan jari-jari di atas tuts dengan oksigen yang cukup.




Dari bedebah kecil,
Di tengah kekacauan di bulan Desember

Aku untuk Diriku

Buat diriku di 5 tahun silam...

Well.. Hai
Aku tak akan menanyakan kabarmu. Aku tahu kamu sedang terpuruk.
Sudah sepatutnya kita tak saling menyapa, karena harusnya memang kita tidak lagi bertemu.

Tapi... Tunggu!
apa yang kamu lakukan?
Kenapa kamu masih berdiri disitu?
Kenapa masih menemuiku?
Bukankah urusan kita sudah selesai?

Tolong, KEMBALILAH!!
Kita sudah berjanji takkan lagi menautkan takdir bukan?
Jadi kamu tak perlu kemari, menanyakan keadaanku, khawatir tentang segala hal tentangku. Tidak perlu.
Jangan sekalipun menyapa atau bahkan pemperhatikanku. JANGAN!
Jangan pula tiba-tiba menampakkan wajahmu di cermin. aku benci itu !!

Tak akan ada lagi yang akan mencarimu. Merindumu saja memuakkan!!
Tolong! Jangan lagi kejar aku. Aku sangat lelah. Sungguh!
Aku sedang mencoba baik-baik saja tanpa siapapun juga tanpa dirimu.

Tak perlu mengiba!!
Aku tak tergoda untuk kembali. Sudah, aku enggan melihatmu. Sekali lagi TOLONG, pastikan kamu tidak akan pernah kembali...

dari AKU di hari ini..

Viewers

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "